Waktu Baca : 2 minutes

aku tak pernah tau kenapa semua gerak mu mengikuti alur dimensi yang berbeda dalam kedekatan emosional yang kentara, walau berbeda bahasa, “basa” dan juga ritual..
aku tak pernah tau kenapa semua bisikan langit yang tehujam dalam batin durhaka telah memuntahkan semburat kemarahan  sang iblis hanya tuk kenikmatan dunia yang terbelunggu dalam jiwa yang sakit dan terus menyakiti jiwa lain dalam bentuk dan metamorfosa kupu kupu indah yang tercampak dalam gelap gulita malam tanpa purnama
aku tak pernah tau kata hatimu, dan apa yang terpendam dalam sanubarimu…
karena aku manusia biasa
namun, aku yakin dan percaya, simbol seksualitas diberikan tuhan bukan untuk memangsa manusia manusia lemah dan tak berdaya, bukan pula menelan kebatilan dalam angkara yang tersembunyi sebagai pelarian jiwa yang sakit
namun aku yakin dan sangat yakin, ada desah nafas yang berusaha kau tahan, dan ada sejumput senyum manis yang berusaha kau bentung dan segudang kata mesra yang kau cuma lumat dengan telan bulat bulat dan kau simpan dalam hatimu, hanya kau biarkan membusuk dan menjadi sampah dan mengadulah dikau pada-Nya…
namun aku bahkan sangat yakin kau juga manusia biasa..
aku adalah daku dalam kesendirian yang terasing dalam padang pasir yang btuh sedikit tetes air 
aku adalah dikau yang bersembunyi dan berdiri di titik nadir, miring tajam dan sdikit saja salah melangkah maka semuanya menjadi hilang
aku adalah dia yang mencoba bertahan dengan hati yang sakit dan lelah dlam dimensi budaya dan ketaatan sebagai hamba
aku adalah insan yang khilaf, yang mengeja ayat demi ayat yang Dia tuliskan di semua wujud
dan akhirnya aku adalah lemah dan teraniaya dalam jalan sesat dan hanya dengan pertolonganMu maka jalan lurus itu akan bercahaya dan meruah tumpah dalam kebahagian dalam semerbak aroma kasturi surga alam cinta dan persahabatan..
sepertiga malam dalam khotbah panjang sang pedusta
tertera sudah bait kata yang mengalir bagai air tumpah 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *