Saracen : Penyambung Lidah Setan ?

0
8
閱讀時間。: 3 分鐘。
                                  圖像源。

Ketika kasus Sri Rahayu : Penyebar konten berbau SARA dan termasuk sindikat Saracen, mencuat, maka motif ekonomi telah mendesak manusia menjadi hamba setan sebagai penyebar fitnah dan hoax.
Berdasar dari kebohongan dan kemampuan memainkan logika dalam memutar balikkan fakta, maka bermuculan fitnah-fitnah yang terselebung. Apalagi hal tersebut memuat ujaran kebencian dan SARA yang menjatuhkan harga diri, mencemarkan nama baik sehingga butuh energi besar untuk mengklarifikasi kebenaran tersebut.
Media telah memainkan peran yang begitu besar sebagai penyambung lidah setan terkait kebohongan dan hoax yang tersebar, butuh strategi khusus untuk meredam reproduksi sebuah kebohongan dan penyebaran via media sosial.
Terungkapnya kepermukaan Situs Saracenews.com, group Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, menjadi bukti bahwa kebohongan telah dilakukan berjamaah dan profesional. Sementara fatwa MUI di harapkan mampu efektif dalam meredam strategi setan dalam berwujud manusia dalam era teknologi saat ini.
Dalam fatwa MUI tersebut tercantum beberapa hal yang diharamkan bagi umat Islam dalam penggunaan media sosial.
Komisi Fatwa MUI menyebutkan, setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan gibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain), fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan.
MUI juga mengharamkan aksi bullying, ujaran kebencian serta permusuhan atas dasar suku, agama, ras atau antargolongan.
Haram pula bagi umat Muslim yang menyebarkan hoaks serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup.
Umat Muslim juga diharamkan menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i. Haram pula menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.
MUI juga melarang kegiatan memproduksi, menyebarkan dan-atau membuat dapat diaksesnya konten maupun informasi yang tidak benar kepada masyarakat.
此外。, aktivitas buzzer di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram.
Secara mendasar pun sebuah kebohongan adalah dosa, namun bagaimana mengetahui sebuah kebohongan bila setiap berita dan fakta yang di sodorkan adalah strategi logika terbalik yang memaksa akal untuk menerima sebagai sebuah kebenaran. seperti fakta fakta yang dikemukakan oleh kaum bumi datar.
Jadi permasalahan kita sebenarnya bukan lagi bicara masalah berita itu benar atau salah, tapi bagaimana kita tidak mudah terprovakasi dan terpancing untuk menyebarkan isu sebelum cross chek ke berbagai pihak dan media pembanding dengan kata lain kita harus belajar lebih sabar, kita harus menjadi seorang pencari kebenaran terlebih dahulu.
Kebenaran dari Allah dalam Alquran Surat Al `Ashr : Demi massa , Sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Betapa benar dan sabar bukan hanya parsial tapi merupakan sebuah kesatuan, benar dalam fakta dan sabar dalam mencari kebenaran.

Leave a reply