Waktu Baca : 4 minutes


Kau Tampar Aku Dengan CintaMu

Kilas balik kisah cinta dua dimensi pada sahabat dan kekasih telah sedikit menghilangkan gerah dan hausku akan pencerahan di umur 22 tahun, aku yang muda, penuh gejolak mencoba memahami dan semua itu berakhir indah, sang sahabat tetap jadi sahabat aku sampai saat ini.

Sepanjang perjalanan dan lika liku itulah aku di pertemukan dengan sang Pujangga yang telah kenyang dengan asam garam kehidupan, manusia biasa yang mungkin telah di gariskan untuk dipertemukan dengan aku hanya di sebuah komunitas kecil, sama sama pencinta kopi.

Pernah ku bertanya, ” Mengapa mau terikat dalam pekerjaan yang membuat dia berhenti berpikir dan free” dan jawaban itu, jawaban klise namun sampai saat ini aku masih blum cukup baligh untuk sadar kedalaman maknanya “Menerima sebuah kenyataan yang bertentangan dengan hatimu namun mampu membuat semua orang tersenyum dengan itu, mengapa harus egomu dipertahankan ?”.

Menjadi sosok yang mengajarkan aku tentang hidup itu jadilah pengamat dan penikmat karena kamu bukan hakim yang bisa memvonis seseorang dengan kebohongannya dengan pembohong, kejahatannya dengan penjahat. Ada banyak alasan dan motif serta latar belakang kenapa dia bisa dan mampu untuk mengambil tindakan dan bersikap seperti itu. Seribu alasan ada untuk pembenaran namun kita bahkan tak mampu memberi satupun solusi. ” Kesadaran diri sebagai hamba, adalah kesadaran akan perubahan menuju khalifah di muka bumi” ujar nya di kesempatan lain.

Setiap ada kesempatan berbagi, setiap kata pembuka yang terucap dia cuma tertunduk, dan aku kadang kadang risih, seolah olah tidak serius mendengarkan, namun bila kuperhatikan benar, butiran keringat di dahinya membuktikan ada serapan energi lain dari getaran ilmu dunia lain yang menyerap semua kata dan menjadikan sebuah solusi dan masalah masalah hidup yang kami diskusikan.

Saat Dia bicara, mulutku terkunci dan telingaku tiba tiba menjadi lebih tajam dan peka sehingga setiap kata tersirat itu akan merasukiku dan aku pulang dengan kebebasan, selalu dan selalu saja begitu.

Sang Pujangga telah kembali, dan aku harap ada banyak hikmah bila ku berjumpa dengan nya kali ini, mungkin ini kesempatan terakhir, karena khabar yang beredar, sang Pujangga akan pindah tugas, dan keputusan itu telah tertulis menjadikan aku sebagai seorang yang tertatih kehilangan seorang guru besar, seorang yang mampu menenangkanku dan menciptakan pelangi di mataku saat hujan kadang kadang tak terbendung di kantong mataku.

“Aku sarat beban”  dan seribu kata lancar mengalir di rangkang kopi sore itu, sore gerimis dan mendung, berdua dan entah kenapa selalu saja settingan setiap pertemuan itu warung kopi itu selalu kosong sehingga aku bisa bicara lepas dan relax.

Semacam skenario khusus, entah, detak jantungku terpompa kuat ketika semua beban itu tumpah. Aku melihat dia hanya tersenyum, senyum kebahagiaan teramat bahagia, senyum seorang guru penuh khidmat menjadi sebuah senyum persahabatan. Tulus dan aku menunggu dengan harap pencerahan itu.

“Sudah saatnya aku pergi, Mas” kembali dia tersenyum.”Aku cuma punya ini” sebuah buku kecil namun tebal dikeluarkan dari sakunya dan ini kuberikan kepadamu “tinggallah disini, sudah saatnya kamu kembali, karena semua masalah itu adalah bermuara dari pikiran kamu”.  “Mohon maaf, ada keperluan lain yang tidak bisa kutinggalkan, nikmati saja sore ini dan tunggulah sampai dimana kau mengerti bahwa kau tak butuh lagi aku”.

Dia beranjak pergi meninggalkan aku sendiri dan airmata ini berlinang, karena aku terlalu bodoh untuk mencerna semua ini. Aku tercampak di sofa duduk itu.. Telah kukisahkan kepadanya sore itu tentang cintaku yang terdesak oleh naluri, cinta dan nafsu yang meraja dan cinta dan nafsu semuanya hilang ketika aku benar benar mencintai.

Angin yang mendesakku untuk bersedekap, karena dingin, sementara temaram sore mengurungku dalam lecutan pembicaraan  kami, bergumul dengan seribu tanda tanya. Kesepian telah menghempaskan di sudut ditemani sisa kopi dan asap rokok yang terus mengepul.

Sebongkah kecil cinta pada hubungan personal dan horizontal sesama manusia, pengharapan dan ketulusan, kemunafikan dan rasa sakit yang tak tertahankan berubah menjadi manusia yang kerasukan, keihklasan melepaskan orang yang kita cintai kerana memang cintanya bukan hanya kita.

Meredam cemburu yang menyakitkan dengan menabur benih cinta disemua hati. Hidup penuh cinta dan penuh bahagia dengan kerinduan dan kecemburuan adalah penjaganya dan kita berbesar hati dan tetap tersenyum dengan semua tingkah polah manusia..bijak sikapi hidup dan bijak melayani hidup dalam setiap tarikan nafas karena memang hidup adalah seperti kita pikirkan.

Kita menjalaninya dengan tingkah laku adab dan ilmu dan pemahaman kita menjadi dewasa berproses menjadi manusia yang siap salah, siap dikritik dan siap tersakiti. karena hidup adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan dan kita jaga kemuliaannya.

Lamat lamat kuperhatikan buku kecil itu, kulitnya bagus bukan kulit biasa, dan ini bukan sebuah buku yakin aku, terlalu istimewa..penuh keindahan dan agung, Menatapnya saja hatiku berdebar. Kesentuh permukaan kulitnya dan ada nuansa berbeda, ada getaran khusus yang dalam karena buku ini terlalu istimewa,dan aku terperanjat.

Di tanganku. aku menggenggam kitab suci, kitab penunjuk jalan lurus dalam mengarungi hidup ini. Kitab yang telah lama tak kubaca dan kusentuh dalam keseharianku. Aku tlah ditampar sangat kuat oleh sang Pujangga.

Azan magrib terdengar lantang dari surau itu, sekejab saja semua suara manusia, raungan kereta itu lenyap, yang tersisa hanya aku dan suara Allahu Akbar, seluruh tubuhku berguncang hebat dan jauh dari dalam batinku memompa penyesalan teramat sangat.

Tumpah sudah airmataku, semua bebanku  tiba tiba raib dan sang Pujangga benar, aku tak lagi butuh dia. Aku hanya butuh sang khalik yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bismillahirahmanirrahim. Lafaz itu terucap dari bibir dan hatiku. Aku mulai melangkah, langkah kaki pertamaku adalah surau itu. Aku hanya ingin bersujud lama padaMU.

Wassalam.

Tribute to : The Big Family of Avatar Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *