Waktu Baca : 2 minutes


Sahabat, Aku Jatuh Cinta 

Dulu.

Aku di usia 22 tahun masih belajar memahami makna, ketika cinta pada seorang pacar yang telah tumbuh rimbun namun satu kesalahan terbesarku adalah menunggu dan meperlambat ikrar agar moment itu tepat, biar romantis, pikirku.

biar jadi kenangan yang terindah, menyusun sebuah rencana agar semua bisa perfect. Tapi, apa yang terjadi, waktu kiranya juga telah memutuskan hatinya tuk berpaling. Setiap detik ketika menangguhkan mengungkapkan cinta setiap detik hati itu akan belajar berpindah dan berpaling karena hati mudah tergoda dan hati mudah goyah.


Ucapan ” Kamu terlambat, Mas”. Malam dingin selepas acara api unggun kemah PMR sekolah. 

“Aku sebegitu lama menunggu kata cinta itu darimu, namun semakin ku menunggu semakin tak pasti, sehingga dia datang,  aku tak mampu menolak, dia begitu bersungguh sungguh mencintaiku” 
petir dan badai pun datang di hatiku. Moment menyakitkan yang tidak mungkin kulupakan. 

Sebuah pelajaran hidup yang mendewasakan hati, mulai saat itu aku belajar memahami 2 hal : 

pertama, cinta itu perlu ikrar karena perasaan saling tau dan saling rasa tak cukup, karena itu tanpa pembatas sebagai bukti memiliki. Kedua, memperlambat ikrar cinta adalah anomali , karena ruang dan waktu itu pasti dan bergerak maju, jadi tak harus dan mesti ada settingan khusus, kalo memang naksir bilang naksir, kalo memang suka katakan suka, kalo memang sayang ucapkan sayang kalo memang cinta utarakan cinta. biar hati memilih karena dia tau kemana mesti berlabuh.
semenjak itu. Berusaha menenangkan hati adalah usaha besarku.  Menyendiri dan jomblo tak ada lagi gairah cinta menggebu dan asmara bersenandung. “Just friend, only friendship is the best “ adalah motto ku. 

Dalam masa ini, aku mulai belajar memahami karakter, tipikal sahabat dan mulai intens dan dekat secara emosional, bahasa singkatnya aku mulai “bergaul”.

Aneh bin ajaib, seiring waktu, seorang sahabat ini telah mencuri hatiku. dalam kondisi sama sama “mabok” sama sama “lapar” sama sama “kenyang”, pengertian dan perhatiannya membuat aku menderita. Bagaimana tidak, aku merindukannya dan parahnya aku cemburu. 

Busyet !!! Seribu tanda tanya membuat malamku tak indah, merenungi makna, ada apa ?.

Sampai aku memutuskan,  membaca literatur psikologi sudah adalah jalan untuk mencari tau, dan kuputuskan untuk mencarinya di pustaka kampus “Jantong hatee Rakyat Aceh”. 

Di ruang sebelah kiri lantai dasar di bawah tangga, tempat buku buku tidak dipinjamkan, rak sosiologi adalah target. Aku menumkan sebuah buku tebal dua bahasa English-Indo. Saat mengecek daftar isi, ada perbedaan cinta pada sahabat dan kekasih.


selama 2 jam lebih, aku mencoba menyerap semua huruf, memahami kata dan kalimat. mencerna pengalaman, dan akhirnya aku tersadar dan membebaskanku dari beban.

ternyata, aku telah  jatuh cinta pada sahabatku sendiri dan dia adalah laki laki.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *