Waktu Baca : 2 minutes


Aku terlambat mengenalnya.Setelah jauh sudah aku mencari sosok yang bisa mengajarkan kan ku bahasa perasaaan , akhirnya ku menemukannya.Dia modern dan tak asing dalam dunia kontemporer, aktiv, berwibawa namun menyimpan sejuta kata yang siap melumatmu dalam,  tentang bahasa paling murni yang pernah ada yaitu bahasa cinta.
“Ajarkan aku Pujangga”, permintaan itu terucap sudah  malam itu.


Setelah semua beban kutumpahkan, dia menghela nafas dalam, membakar sigaret meneguk sedikit kopi,  dia memandangku lekat. Senyum dan kernyitan dahinya membuat aku sedikit gerah, sangat jarang Pujangga menatapku seperti itu. 

“Jikalau semua energi dan pengharapanmu bersatu dan terlepas ke alam ini dan apabila dia juga menginginkan hal yang sama, walau hanya tuk sekedar mengenalmu lebih dekat, maka bersyukurlah”. Getar suaranya membuat debar.
“Jalan itu akan terbentang dan pertemuan itu adalah magnit yang sangat kuat, tapi ingat !”. sedikit jeda itu membiarkan aku meresapi setiap titah kata yang terlahir.
“ingat, Mas.” Mas adalah singkatan nama dan jadi panggilanku.  ” Kau akan tersakiti, kerinduan dan perasaan kehilangan itu akan tak berhingga”
Aku tertunduk, jiwaku bergetar, dia seakan membaca kisah itu tertulis.

Memang takdir atau nasib. Aku terlalu letih tuk mengerti, butuh seseorang yang bisa memahami makna. Sang pujangga telah keluar kota pula dalam waktu lama. 

Sebulan yang lalu.

Aku hanya melihatnya, tanpa ada makna tanpa ada rasa,
pertemuan yang kedua, dia begitu indah tuk kehadirkan dalam benak dan sekarang dia ada dan dekat.
tiba tiba saja, perasaan rindu dan kehilangan itu mulai mengendap.

Setahun yang lalu.

Setelah kisah percintaanku  terbentur dinding , aku berjanji bahkan bersumpah tak kan pernah kubiarkan seorangpun tuk singgah di hatiku , karena aku tak mau lagi ada perasaan kerinduan dan kehilangan menyergapku di saat sendiri, terlalu pedih.

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *