صيغة المساواة بين جوهر الحياة والبشر

Terinspirasi dari E = MC²
0
38
وقت القراءة: 3 الدقائق

مصدر : Pixibay

عندما سأل أحدهم Enstein, ما الأسئلة التي سيسألها الله إذا كان بإمكانه طرح هذا السؤال, أجاب “كيف بدأ الكون ?, لأن كل شيء بعد ذلك مشكلة رياضية”, ولكن بعد التفكير لفترة من الوقت غير رأيه ثم قال, ” ليست ذلك. سأطلب, لماذا تم إنشاء هذا العالم ?, لأنني حينها سأعرف معنى حياتي”

الجملة أعلاه هي تعبير عن علماء العالم, ألبرت إنشتاين, yang berhasil merumuskan teori besar relativitas dan juga persamaan paling terkenal yaitu persamaan massa dan energi, E = mc².

فتحت تجاربه في الفيزياء الإرهابية أبوابًا جديدة للمعرفة وغيرت وجه العالم, واحدة منها هي القنابل الذرية هيروشيما وناغازاكي.

العبقري, هذا هو ما يرتبط بمستوى الذكاء الذي يمتلكه, مع معدل الذكاء المقدر 160 (dengan standar jenius IQ >140), يتم تخزين حتى قطع من دماغه في متحف موتر, فيلادلفيا, أمريكا للبحث.

يتم تعقب جميع إنجازات حياته, كتب وأخبر مرارًا وتكرارًا كمصدر إلهام وتحفيز لعلماء العالم بما في ذلك كلمات اللؤلؤ, Baca saja “225 اقتبس من اللؤلؤ الحكيم ألبرت إنشتاين” (shorturl.at/cfwAL.)

للكتّاب أنفسهم, قدرته على التخيل ببساطة في العالم الحقيقي للعلوم المعقدة, دليل على عبقريته.

Ketika Energi yang dilambangkan dengan E memiliki satuan Joule dan Massa yang dilambangkan dengan M memiliki satuan kiloggram (Kg) maka saat dianalisis dimensi dalam konsep relativitas, konstansa kecepatan cahaya (c) dikuadratkan untuk memastikan hubungan energi dan massa setara dalam dimensi.

Mengurai masalah yang kompleks kedalam model model sederhana adalah bentuk logika yang di transfer untuk dipahami.

Kehidupan manusia pun memiliki masalahnya sendiri, menempatkan masalah sesuai bidangnya adalah kecerdasan, cerdas dalam memilih dan mengkategorikan masalah masalah menjadi identifikasi masalah yang menjadi urutan pokok dalam mencerna, memahami dan mengkontruksikan ide dan gagasan.

Sehingga di artikel ilmiah apapun termasuk proposal, latar belakang menjadi pembuka dalam merumuskan tujuan dan maksud, upaya penyelesaian dan hasil yang ingin dicapai.

Semangat, etos kerja, ketekunan dan berbagai bentuk dimensi kekuatan kejiwaan manusia tidak terstandarisasi dan sulit untuk dirumuskan dan dimodelkan.

Lalu bicara manusia sendiri kita akan dihadapkan pada konsep ketuhanan dengan tuntunan agama.

Dalam konsep kesetaraan makhluk, Manusia dihadapan Tuhan semua sama statusnya hanya derajat ketagwaan pembedanya.

Dalam konsep Islam, manusia disederhanakan dari tingkatan paling rendah yaitu Muslim, Muhsin, mukmin, Mukhlisin dan Muttaqin (Manusia Bertagwa).

Manusia diarahkan untuk menemukan solusi masalah hidup dengan menempatkan niat karena tuhan sebagai dasar pijak ketaqwaan sehingga Tuhan menjadi satu satunya alasan untuk semua perbuatan yang berdampak, semua solusi yang direncanakan.

Dan bicara mengurus manusia menjadi sangat kompleks, butuh manusia paripurna setingkat nabi dan Rasul dengan suri teladan dalam tutur, sikap dan perilaku keseharian yang menjadi cermin atau rule model menjadi manusia seutuhnya.

Terbatasnya akses ilmu dan pengetahuan Dalam menuju kearah kehidupan yang lebih baik maka tentu saja kita harus memiliki panduan Utama dari Tuhan dan Rasulnya, sehingga Alqur’an dan Hadist merupakan tali pegangan kita dalam menjalani kehidupan.

Ketika rentang ruang waktu telah meninggalkan kita jauh dari sumber utama (Masa Sahabat, tabi’in dan thabi’ut tabi’in), maka tafsir, pemahaman kita sekarang adalah bersandar pada kapasitas keilmuan dari pada alim ulama.

Ketika penciptaan makhluk semata mata hanya untuk menyembahNya, sang Pencipta memberi kita akal untuk menemukan jalan kehidupan, memberi kehendak atau nafsu, memilih yang baik dan buruk.

Terjebak di problema kehidupan yang tak berujung, terbentur aral melintang dalam mencapai target target pencapaian, mencari celah dan menemukan jalan kesuksesan dan bernilai sebagai manusia sangat melelahkan.

Memahami penciptaan melemparkan kita pada kesadaran bahwasa kita tak lain hanya sebutir debu dari luasnya alam semesta, Pemahaman ilmu hanya membuat kita makin bersimpuh menghadapi kenyataan kapasitas keilmuan kita hanya setetes air dari lautan yang luas.

Tangisan bayi dalam sekejap waktu dewasa, menikah, menua dan kemudian mati, dikenang jika berjasa dan bernilai saat hidup.

Namun mayoritas kita hanya menjadi ucapan doa doa yang dipanjatkan sanak keluarga, meninggalkan kesan yang menguap bahkan tak jarang setahun sekali kubur kita dibersihkan.

Menjadi manusia menjadi persoalan rumit untuk menjalaninya, membiarkan mengalir belum tentu membahagiakan, terlalu banyak nelangsa dan beban yang sarat yang harus kita emban.

Belum lagi bersinggungan dengan tanggung jawab sebagai diri sendiri, pemimpin keluarga, masyarakat dan rakyat.

Sungguh kehidupan yang rumit ini harus disederhanakan dalam menemukan esensi kehidupan itu sendiri.

Mengurai kesederhanaan kehidupan inilah yang coba kita turunkan dari Persamaan E=MC².

Jika Esensi kehidupan disimbolkan dengan E yang memiliki satuan Tagwa, dan Manusia yang disimbolkan dengan M memiliki satuan jiwa yang terikat dengan konstansta kalimat tauhid dimana pemamaman Islam, Iman dan Ihsan dalam dimensi realitas maka Esensi kehidupan kita setara dengan manusia itu sendiri.

Wallahuaqlam bishawab.

Banda Aceh, 4 كانون الثاني 2020.

Leave a reply

Artikel Lainnya