Rijal Kotto
Waktu Baca : 2 minutes

Menjadi Starting Eleven di Skuad Persiraja era 90-an merupakan pencapaian tertinggi bagi pesepakbola Aceh.

Laskar Rencong kala itu menjadi tim paling prestisius di Aceh, dan khusus bagi pemain asal Pantai Barat Selatan Aceh dipastikan sangat sulit menembus tim berjuluk “Lantak Laju” yang saat itu berada di kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

Sejarah sepakbola Abdya mencatat dengan tinta emas salah seorang pemain asal gampong Meudang Ara, Blangpidie, Abdya (dulu masih dibawah kab. Aceh Selatan), yang  bernama Syafrizal alias Rijal Kotto berhasil menembus skuad Persiraja.

Pesebakbola BOM-H Meudang Ara ini dilirik Management dan dipanggil seleksi setelah kualitas permainan apiknya di posisi “center back” sangat menonjol.

Moment itu didapat saat pertandingan persahabatan BOM-H menjamu Persiraja, dalam gelaran agenda tournya ke Pantai Barat Selatan Aceh di lapangan Persada tahun 1996.

Jam terbang dan pengalaman bermain di tim senior Persada, Porda Aceh Selatan,  PSKB Binjai dan  PSL Langkat, Sumut telah menjadikan aura bintang pria kelahiran Meudang Ara tahun 1976 dengan tinggi postur 172 cm bersinar terang di laga persahabatan tersebut.

Setelah lolos seleksi Persiraja, Rijal Kotto resmi mengikuti jejak pemain Barat Selatan Aceh lainnya seperti Bobby Kiper asal Aceh Barat dan Khaibar Abrar kelahiran Meukek, Aceh Selatan dan berhak mengenakan nomor punggung 16.

Kesuksesan suami dari Fara Mutia sekaligus Ayahanda dari  Syafira dan Muhammad Abizard telah menjadi  motivasi bagi pesepakbola muda asal Abdya dan sekitarnya dan diidolakan.

Sekitar tahun 2000,  keputusan management mendatangkan  pemain asing, telah mengubah komposisi tim.

Persaingan posisi defender yang semakin ketat memaksa Rijal Kotto  memilih berlabuh di PSSB yang sedang mengarungi divisi satu.

Setahun kemudian, mantan klubnya Persiraja yang menempati peringkat 12 Wilayah Barat divisi utama harus menerima kenyataan terdegradasi ke divisi satu,  Rijal Kotto ikut merasa kecewa dan sedih, namun karir sepakbola harus dilanjutkan di tim berbeda.

Setelah tsunami Aceh 2004, di penghujung karir sepakbola profesionalnya, Rijal Kotto sempat memperkuat Persidi Idi dan PSAA Abulyatama sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu dan berhak ditasbihkan sebagai salah seorang Legend sepakbola Aceh.

Dalam masa pensiun, Rijal Kotto bersama Legend Persiraja Khaibar Abrar kemudian menginisiasi Klub Eksekutif Pojok 42 yang bermateri para pemain senior yg non aktif dari berbagai klub di Aceh.

Peran aktif Rijal Kotto di lapangan hijau akhirnya mendapat apresiasi dan kepercayaan dari presiden Legend Sigupai FC,  Safaruddin, S.Sos, M.S.P untuk menjadi coach periode 2020-2025.


Rijal Kotto bersama Musa Rajekshah (Wagub Sumut)

Mengutip wawancara langsung penulis dengan Rijal Kotto di sela-sela rangkaian tour Legend Sigupai lintas timur Aceh dan Sumut, pemain Legend Aceh ini mengharapkan persebakbola asal barat selatan aceh tetap konsisten berlatih dan semangat menggapai mimpi menjadi pemain profesional.


#Salamolahraga

#Tabekparalegend

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *