Waktu Baca : 2 minutes

Sudah beberapa tahun ide ini mengendap dalam pikir, dan sejak berdomisili di Aceh Besar, mimpi ini makin sering hadir.

Berawal dari launching peresmian Komunitas Sepakbola Chelsea Indonesia Supporter Club (CISC) Regional Abdya tahun 2017, kami menggagas Kopdar Lintas Komunitas di Keniyo Kupi.

Keinginan untuk kolaborasi antar komunitas makin menguat saat melihat kesuksesan acara Word Clean Up Day Abdya, 17 September 2018 lalu lanjutkan dengan moment peringatan sumpah pemuda dengan tajuk ” Abdya Muda Beraksi”, Oktober 2018.

Belajar banyak hal, mendengar lalu mencacat permasalahan komunitas yang ada, semua bergerak sendiri sendiri, relawannya kurang militan, banyak yg hanya mencari existensi namun gagal dalam menjadikan komunitas kaya karya.

Belum lagi permasalahan mendasar yaitu belanja operasional. Komunitas seringkali terjebak dan stagnan karena upaya mencari donatur terbatas akses, proposal kegiatan dengan kebutuhan biaya tidak mampu menjawab persoalan dana dan akhirnya relawan komunitas pun siap dengan sumbangan sukarela.

Masih jelas terpatri, saat mendapat kepercayaan menjadi Kasubbag Program dan Pelaporan disdik Abdya, bersama Staf Khusus Pendidikan Abdya, Affan Ramli, kami elaborasi permasalahan ini.

Dalam salah satu kegiatan, sesuai dengan prosedur perencanaan dan pengganggaran pembiayaan anggaran operasional komunitas kita akomodir dengan APBK guna memberi daya dorong pegiat dan pelaku dapat mengeksplore daya kreatif komunitas.

Sayangnya, upaya tersebut mental dan tidak terakomodir karena kegiatan yg bernaung dibidang budaya, pariwisata, pemuda dan olahraga hanya urusan pilihan bukan urusan wajib.

Jika kemudian banyak komunitas mati suri, hilang tumbuh berganti menjadi hal yg wajar, alamiah. Sebaliknya beberapa komunitas bertahan hidup dengan “kolaborasi”, sehingga kata kata ini mengakar dan tumbuh dalam ruang ruang komunitas sebagai wujud kerjasama membangun peradaban Aceh.

Kolaborasi inilah inti dari Lintas Komunitas Aceh (LinKA). Jika sempat duduk bersama dengan Ketua Institut Peradaban Aceh, Haekal Afifa, maka LinKA akan ditawarkan menjadi Unit Pelaksana Teknis Institut.

LinKA hadir sebagai fasilitator dari pemilik dana (donatur) dengan kegiatan yang diajukan berdasarkan Proposal.

Semua Komunitas di seluruh Aceh, boleh mengajukan proposal yg memuat kegiatan dan kebutuhan dana operasional yang akan diverifikasi oleh 10 orang Tim Teknis LinKA atau dengan nama lain yang dengan kompetensi dan kualifikasi bidang yang tidak diragukan publik.

10 Pemuda Aceh Militan inilah yang mempertajam tujuan dan sasaran serta melihat dampak perubahan yang dihasilkan dari ide ide kegiatan komunitas di Aceh baik perkomunitas maupun kolaborasi.

Insya Allah, LinKA setidaknya mampu menjawab banyak permasalahan kerakyatan di Aceh yang terpantau oleh komunitas, namun sulit digerakkan karena keterbatasan akses dan dana, bukankah bersama bergerak akan membangun peradaban.

Mengenai penunjukan, 10 Pemuda Militan Aceh tinggal dipilih dari rekam jejaknya untuk Aceh dan tentu saja punya komitmen menjadi relawan Penggerak LinKA.

***
Masri Pribumi.
Aceh Besar, 30 Januari 2021

Tagged With:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *