Waktu Baca : 5 minutes

Ada pola kuno (ancient type) dari berbagai kejadian atau peristiwa saat ini. Dimana kejadian atau peristiwa masa kini merupakan refleksi dari masa lampau dalam bentuk dan pola yang berbeda namun secara substansi adalah sama.

Momen Pilkada di Indonesia yang menganut sistem demokrasi, kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat dengan format calon diusulkan oleh partai politik maupun independent berdasarkan dukungan sah yang ditetapkan dengan aturan tersendiri mengenai pemilu, proses memilih pemimpin ini dalam kontek sejarah Islam telah juga telah dilaksanakan ketika memilih pemimpin sebagai pengganti Rasullullah, Nabi Muhammad SAW dimana Abu Bakar RA telah dipilih secara langsung dan aklamasi serta diteguhkan dengan baiat.

Pemilihan kepala daerah serentak baik Gubernur maupun Bupati di Aceh  akan dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2017. Ada proses politik yang tengah berlangsung dalam memenangkan kandidat sebagai pemimpin rakyat. Kampanye berbagai program unggulan, sosialisasi kandidat, propaganda politik dan bentuk bentuk kampanye lain semuanya berujung pada menggerakkan hati rakyat untuk meraih simpati dan dukungan suara.   
Dari perspektif pemilih, ada beberapa pertimbangan untuk menentukan pilihan, baik rasional, kedekatan emosional maupun alur sejarah dalam proses pergantian kepemimpinan.  Tidak bisa dipungkiri sejarah menjadi pertimbangan penting dalam memilih pemimpin dan figur pemimpin terbaik sepanjang masa adalah Rasullullah Muhammad SAW, dan ini telah diakui secara Global. Dalam kontek pilkada khususnya pemilihan Gubernur dan Bupati di Aceh ada dua hal yang yang menjadikan kepemimpinan rasulullah  menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam menentukan pilihan pemimpin yang layak dan pantas.
Pertama, Rasullullah secara personal mempunyai kualitas diri yang menonjol yaitu Siddiq (benar), Tabligh(menyampaikan), Amanah (dapat dipercaya) dan Fathanah (cerdas). Tidak terbantahkan kualitas yang dimiliki Nabi Muhammad SAW merupakan kualitas terbaik, akhlaq Nabi adalah Alqur’an itu sendiri, demikian kata Aisyah RA. Manusia dengan kualitas diri menonjol tersebut diyakini menjadi panutan dan kepercayaan menjadi sosok pemimpin yang layak dan pantas. Memperbaiki kualitas diri sudah menjadi kewajiban bagi siapapun terlebih bagi calon pemimpin sehingga sosialisasi dan pencitraan itu tidak perlu dibalut dengan modus sumbangsih dan kegiatan sosial. Karena Manusia yang jujur pada dirinya sendiri tidak butuh pengakuan dengan bentuk penghargaan dan apresiasi yang diciptakan seperti saat ini seperti status daerah Wajar Tanpa Pengeculian (WTP), tapi kepala daerahnya sendiri masuk penjara karena tersangkut kasus korupsi. Bukankan manusia yang siddiq itu benar dalam perkataan dan perbuatan.
Manusia yang amanah itu akan selalu berupaya dan bersungguh sungguh mewujudkan harapan dan cita cita masyarakat yang mempercayai dia sebagai pemimpin. Ternyata korelasi bahwa antara kepercayaan yang diperjualbelikan dengan pemimpin pemimpi sangat erat kaitannya. Pemimpin pemimpi yang menjual mimpi dan harapan palsu hanya bertujuan menjadi penguasa untuk meraih keuntungan pribadi dan golongan.
Manusia yang tabligh akan selalu bersuara sebagai bentuk kepedulian pada kepentingan masyarakat ekonomi lemah yang tertindas dengan terus meneruskan, menyerukan perubahan dan perlawanan bukan mengharap suatu saat akan mendapat posisi dipemerintahan dan kekuasaan. Sebut saja contoh kasar adalah para aktivis mahasiswa yang berjuang demi rakyat atau anggota dewan yang terhormat namun ketika disuapi dengan remah remah materi oleh penguasa malah menjadi corong pembenaran bagi kebijakan penguasa yang tidak berpihak pada rakyat.
Manusia yang cerdas itu selalu siap menghadapi perubahan zaman, punya pandangan yang jauh kedepan dalam menyikapi dan bertindak sehingga tidak tergerus dan tenggelam oleh kuda-kuda politik, atau mencemari nama baik sendiri dengan sensasi mencari popularitas. Manusia yang cerdas itu juga membangun konsep diri penuh empati dengan pendukungnya bukan koalisi bodong untuk menjadi nomor satu. Kecerdasan itu melahirkan kebijakan dalam memilih dan memilah siapa yang berhak untuk dibela bukan hanya cerdas beretorika dan berargumen untuk membela diri dan golongan.
            Kedua, Rasulullah secara interpersonal didukung penuh oleh 5 sosok utama dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Kelima sosok tersebut dapat merupakan bentuk kuno dari hubungan interpesonal yang harus di penuhi seorang calon pemimpin dan masa sekarang kelima 5 sosok tersebut merupakan pilar pilar pendukung bagi seorang pemimpin agar kriteria layak dan pantas dapat di pertanggungjawabkan pada pemilih.

         Sosok Abu Bakar Ash Siddiq adalah Sahabat nabi yang pertama masuk islam,  orang yang  Rasulullah percaya untuk menemaninya berhijrah ke Madinah.  Adapun akhlak Abu Bakar, ia adalah seorang yang terkenal dengan kebaikan, keberanian, sangat kuat pendiriannya, mampu berpikir tenang dalam keadaan genting sekalipun, penyabar yang memiliki tekad yang kuat, dalam pemahamannya, paling mengerti garis keturunan Arab, orang yang bertawakal dengan janji-janji Allah, wara’ dan jauh dari kerancuan pemikiran, zuhud, dan lemah lembutSebagai pilar pertama, sosok Abu Bakar, zaman sakarang adalah sosok dengan kualitas pengayom dengan pemahaman  ilmu agama  yang kuat, yang akan terus menjadi pembimbing seorang calon pemimpin secara spritual. Sosok itu adalah para ulama atau sosok panutan yang tidak berkepentingan secara dunia.
Sosok Umar bin Khattab sendiri pada zaman rasulullah di segani oleh musuh karena wibawa dan kekuatannya.  Bukankah Umar bin Khattab sebelum berhijrah, mengasah parang dan shalat dua rakaat di ka’bah dan setelah itu menyampaikan kepada musuh secara terbuka bahwasa Dia akan berhijrah besok pagi, dan apabila ada yang berkeinginan seorang ibu kehilangan anaknya, seorang isteri kehilangan suaminya dan seorang anak menjadi yatim, Umar siap berduel, namun tidak ada satupun penentang Islam bersedia menerima tantangan tersebut. Sosok ini zaman sekarang adalah penegak dan pembela hukum , meraka yang cukup paham dengan dunia hukum. Sosok yang menjadi penasehat hukum  seorang calon pemimpin dalam dalam mengambil setiap keputusan sebelum bertindak sehingga tidak semena-mena dan melanggar aturan dan ketentuan yang hanya menjadi bumerang pada diri sendiri.

      Sosok Usman bin Affan adalah saudagar kaya yang selalu menyerahkan hartanya pada perjuangan di jalan Allah.  Saat ini sosok Usman bin Affan adalah adalah pengusaha dengan modal yang kuat yang senantiasa memberi dukungan terhadap kebijakan pemimpin yang menyentuh hayat hidup orang banyak. Pengusaha yang percaya dan yakin bahwa sosok yang didukungnya adalah calon pemimpin yang harus dibantu dalam proses pemenangan tanpa ikatan kontrak atau deal politik  bagi bagi hasil.

Pilar yang ke empat adalah sosok Ali bin Abi thalib, sahabat nabi yang cerdas dan pemberani. Baca kisah Saidina Ali saat Rasulillah menyuruh Ali tidur berselimut di tempat tidur nabi, saat musuh musuh dari kaum Quraisi telah mengepung rumah Nabi Muhammad SAW dan berniat menghabisi beliau sebelum sempat berhijrah. Membunuh pemimpin ditempuh sebagai solusi terakhir dari perlawanan penentang dakwah Islam. Sosok ini pada zaman sekarang adalah massa atau pengikut dan juga pemuda pemuda  militan dengan kerelaan berkorban untuk kepentingan yang lebih besar dan  menjadi kekuatan pendobrak dari bentuk bentuk penindasan kaum lemah. Pemuda pemuda itu saat ini menjelma dalam berbagai komunitas dan lembaga lembaga swadaya masyakat sekaligus relawan pemenangan kandidat yang militan.
Sosok terakhir sebagai pilar ke lima adalah Khadijah, pilar penopang dan penguat mental akan perjuangan, sosok yang terus memompa semangat dan tidak pernah lelah menjadi pendamping hidup dalam situasi apapun. Sosok ini adalah seorang istri yang shaleha, seorang isteri yang percaya dan yakin bahwa bahwa laki laki yang bersamanya saat ini tengah berjuang menjadi calon pemimpin yang membawa kemashlahatan umat. Seorang isteri yang berusaha menjadi calon penghuni surga bukan isteri yang mendamba harta dan popularitas.
Secara singkat dan sederhana, figur seorang calon pemimpin itu dekat dengan ulama bukan ulama su’, bersahabat dengan penegak hukum  bukan oknum yang memperjualbelikan hukum, berteman baik dengan pengusaha yang jujur punya kedekatan emosional dengan pemuda-pemuda yang cerdas dan pemberani serta seorang isteri yang shaleha pendamba surga.
Sebelum pesta demokrasi dimulai, sebelum kita menyesal menjatuhkan pilihan, ada baiknya kita bertanya,  sudahkah kita mengenal sosok pemimpin pilihan?. Di zaman yang terbuka secara informasi saat ini, tidak sulit melacak siapa figur yang layak menjadi calon pemimpin dari mereka mereka yang tengah berjuang memikul amanah.  Sudah seharusnya kita bergerak dan aktif mencari informasi yang dapat dipercaya dari berbagai sumber, dan berhati hati memilih dan memilah infornasi agar tidak digiring karena media terkadang sudah menjadi alat propaganda politik.
Akhirnya, kesadaran baru telah tumbuh pada kita sebagai pemilih, pemimpin yang layak dan pantas telah kita tentukan dengan sadar dan pilihan hati nurani. Sudah saatnya kita menjadi pemilih yang cerdas bukan pemilih yang membeli mimpi dengan santunan beras, kain sarung dan lembar lembar rupiah dan tidak menjadi pemilih golongan putih dengan berbagai alasan. Wallahua`lam bishshawab.

Tulisan ini pernah dimuat di Media Online Aceh Trend.
Klik Link di bawah.
http://www.acehtrend.co/pemimpin-bukan-pemimpi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *