“Menyet-Nyet”

0
3
Reading Time: 2 minutes

Bismillahirahmanirrahim.

“Menyet-nyet” adalah kosa kata bahasa Aceh yang sering kita dengar dalam keseharian orang Aceh, dan menurut hemat penulis  belum ada kata yang tepat sebagai terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

“Menyet-nyet” bisa berbentuk kata kata atau perbuatan yang diselipkan sindiran halus namun memantik tawa, unsur yang harus dipenuhi hanya bila terus berulang dan ditujukan untuk subjek yang sama, jadi jelas tidak bisa disamakan dengan “nyinyir”.

“Menyet-nyet” dalam khasanah pergaulan orang Aceh sudah menjadi sebuah kebutuhan, lahir dari bentuk keprihatinan sosial dari banyaknya orang Aceh yang “klo prip” (ind : tuli semprit), yang dilabelkan pada seseorang yang sudah tak mempan lagi dinasehati dan selalu menolak kebaikan.

Orang Aceh yang dikenal tegas, menyampaikan humor juga dengan cara yang pedas, (bukan cerdas),  “menyet-nyet” tidak butuh dasar pemikiran atau segala bentuk dasar teori, karena semata mata hadir dari ranah empiris, berdasarkan fakta dan peristiwa yang terlihat mata. 

“Menyet-nyet” bisa begitu kuat dan mengena sehingga target tidak berkutik atau mati kutu. Menyet-nyet bisa memancing tawa penikmat sekaligus memancing emosi objek sasaran. Dalam azaz pergaulan termasuk dalam sifat yang tidak sopan, tapi berarti tak pantas bukan ?

Kelebihan dari orang  “Menyet-nyet” adalah mereka mampu menyampaikan lelucon dengan kata kata atau lakon yang berbeda, dan tetap berhasil membuat gelak tawa.

Dilevel elit, menyet-menyet dengan “sense of humor” yang tinggi, butuh teknik komunikasi yang baik dan lihai bermain kata. Bagi yang suka “menyet-nyet’ berupa lakon, maka harus mampu memadukan akting sekaligus pantonim di dalamnya.

“Menyet nyet” bukan caci maki apalagi kritik, dia hanya sebuah bentuk ekspresi kelucuan sekaligus keluguan orang Aceh dalam menyikapi hidup. Anda sependapat ?

 

TagsAceh

Leave a reply

Artikel Lainnya