Waktu Baca : 2 minutes

Kebanyakan dari kita pernah terjebak dalam situasi krisis finansial. Ada dorongan yang kuat dari membelanjakan lebih income sehingga besar pasak dari pada tiang. 
Sebuah dorongan untuk lifestyle dan sulit menahan budaya konsumtif yang terus menerus di sodorkan via iklan dan promosi telah meruntuhkan pemahaman kita tentang kategori dan batasan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. 
Terlepas dari pada itu, budaya saving hanya sebuah mimpi saat kebutuhan hidup kita sehari hari ternyata telah membabat habis pengeluaran kita, tidak lagi tersisa dana lebih bahkan yang ada menyisakan utang, sedangkan piutang hanya terus menerus merusak unsur kepercayaan kita terhadap teman, kerabat dan orang yang kita percaya, karena tidak tepat janji dalam pengembalian utang. Miris. kebanyakan kita telah hidup hanya gali lobang tutup lobang.
Bicara tentang peluang pendapatan secara personal inilah, banyak orang melabrak aturan ekonomi, dimana memamfaatkan peluang mendapatkan hasil maksimal dengan bertaruh atau berjudi, yang ternyata malah makin membuat seseorang makin miskin. Dimana prinsip ekonomi dengan modal sekecil kecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar besarnya telah salah gunakan oleh penjudi.
Sementara itu, ketika kita merujuk pada kalimat yang kaya makin kaya, maka pembenarannya memperlihatkan orang tersebut kaya dalam arti terpenuhi kecukupannya dalam kemampuan finansialnya ternyata telah menginvestasikan kelebihan dananya dalam bentuk jangka panjang, berupa emas, tanah dan properti. 
Pegiat usaha baik skala kecil, menengah dan besar semakin terpacu menawarkan jasa dan barang. Banyak segmen dan pangsa pasar yang belum digarap untuk industri rumah tangga, sementara terobosan baru sesuai dengan perkembangan zaman membutuhkan kemampuan manajerial lebih dalam persaingan dunia usaha.
Bila dikaji lebih dalam penyebab krisis finansial semata mata karena kita tidak mampu hidup sederhana. Sementara budaya hedonisme, telah menyebabkan kita lupa diri. 
Bila Kekayaan finansial dimulai dari pemikiran, maka kekayaan sikap dan mental dibangun atas dasar kepercayaan dan kejujuran karena modal bukan cuma uang tapi juga kemampuan dalam melihat peluang. 
Selama kita mampu menjaga mental sebagai orang kaya, dalam bentuk berinvestasi baik jangka panjang maupun jangka pendek, akan terus menerus menjadi tujuan dan jalan perputaran uang dalam peningkatan pasiv income
Sedangkan bila sikap kita masih mencari peluang dan kesempatan dengan bertaruh untuk meperoleh keuntungan cepat atau berjudi dalam arti harfiahnya maka kita sebenarnya telah memelihara mental orang miskin. 
Selain itu, mengelola uang dan modal yang bersumber dari hasil yang halal akan memberikan berkah dan mamfaat yang mengalir untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Semoga juga kita tidak terjebak dalam katagori orang pelit dan kurang bersyukur karena enggan bersedekah.

Wallahu’aqlam bisshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *