Menapaki Jejak Tsunami Aceh (part 2)

Berdasarkan Pengalaman Penulis Sendiri
0
41
閱讀時間。: 5 分鐘。

Matahari siang minggu enggan bersinar, bagiku cahaya terlalu kelam untuk jam jam siang seperti biasanya, selepas gelombang menyapu, dia nya kelabu.

Masih di hamparan padang puing puing, baju kami yang basah dan bau keringat bukan penghalang untuk terus bergerak.

Tujuan kami adalah bangunan rumah Toke Leman yang letaknya persis dijalan gerbang masuk Gampong Lampeudaya, terlihat utuh berdiri diantara bangunan yang ambruk.

Kami mendekat cepat, ada lambaian, teriakan di lantai dua dari mereka yang selamat.

Lalu isyarat tangan menyuap diri sendiri mereka peragakan, spontan kami mengerti mereka kelaparan, namun kenapa mereka tidak segera turun, apakah mereka terkurung? apakah mereka cedera atau ataukah mereka trauma ?

Tak ada satu jawaban yang pasti sebelum bertanya langsung, biarkan pertanyaan itu menggantung, sekarang adalah mencari makanan buat mereka.

Kami begitu bersemangat bergerilya mencari sebanyak mungkin makanan dan minuman yang dapat kami kumpulkan.

Merasa cukup kami pun bergegas merapat, terlihat pintu depan dan jendela masih utuh, namun garis retak sepanjang dinding membuat rumah ini rentan ambruk.

Tak putus asa, mencoba memutar jalan belakang, dan dindingnya malah telah bobol, sesosok mayat laki laki tambun terhampar di bawah tangga, matanya melotot tajam, membuat kami kaget dan mundur selangkah.

Aku menarik nafas menenangkan diri dan mulai menaiki tangga perlahan di ikuti ke tiga kawan yg menenteng makanan dan minuman yang kami temukan.

Ada 10 orang diatas terlihat pasrah, seorang anak perempuan yang digendong lelaki dewasa terlihat berlumpur, seorang lagi terlihat sumringah saat kami mendekat, sementara tangan mungilnya memegang erat jemari wanita dewasa, aku menduga mereka satu keluarga yang selamat.

Sulit membayangkan rasa lapar yg mendera anak sekecil itu jika bertahan semalaman disini, sementara 2 laki laki dewasa lain langsung mencecar kami menanyakan informasi keadaan.

Tiga orang perempuan paruh baya masih bersama seorang kakek tak bergeming dan seolah tak peduli. Mereka terduduk disudut ruangan, merundung duka tak terperi, tergugu, sesengukan.

Kupandang lamat lamat wajah mereka sama sekali tak mirip, namun bibir terus bergetar melafazkan la ila haillah pelan dan halus. Ada sesak yg tertahan, ada putus asa yang paksa lawan sekuat tenaga. Mungkinkah suami, anak anak mereka lepas di pegangan tangan saat bergumul dalam gulungan gelombang ? Aku hanya bisa menbayangkan tak berani menanyakan.

Perlahan bulir mataku mengalir, suasana ini menyentak pilu. Kutatap kawan yang lain, mendung telah hinggap di rona mata mereka.

Tak Satu orang pun dari mereka kami kenal, namun nasib sama sama menjadi korban telah membuat kami senasib dan sepenanggungan.

Gambaran kondisi perjalanan evakusi terbaik hanya melewati gampong Lampeudaya, dan pilihan terbaik adalah bergerak bersama keluar dari rumah ini sebelum malam datang, daripada harus menunggu bantuan yang tidak pasti.

Salah seorang Kakek yang terluka parah harus dipapah, kami memilih Agus sebagai orang yang berbadan besar dan punya tenaga yang kuat bertugas untuk itu.

Setelah menimbang dan menaksir arah, sebaiknya kakek tersebut harus segera mendapat pertolongan dengan memutar jalur jalan Gampong Klieng ke Arah Miruk Taman, sebagai jalan akses jalan yang lebih ramai, Agus mengiyakan, tak ada penolakan sama sekali, niat membantu jauh lebih besar untuk menepis semua kemungkinan buruk yang bisa datang diperjalanan.

Kami semua melepas Agus dan kakek tua yang berangkat sampai menghilang tertutup gunungan sampah dan berharap yang terbaik mereka baik baik saja.

Senja mulai datang, duka menyelimuti negeri, sepanjang jalan kami waspada, sangat berhati hati bergerak diatas tumpukan beton, kayu yang bisa saja mencederai.

Perjalanan benar benar senyap, yang terdengar hanya derap langkah, semua nampak waspada memasang pendengaran baik baik jika ada yang bergerak atau permintaan tolong yang bisa saja muncul.

Benar prakiraan kami, terlihat seorang pemuda bersusah payah mengayuh papan yang dijadikan semacam rakit mendorong dirinya diantara genangan air yang tersisa.

Sebenarnya kawasan Blang Sireh yang terletak antara Lampeudaya dan Lamseunong, tanahnya sudah dikerok sebagai bahan untuk tanah pabrik batu bata, dan kala air hujan datang, sawah sawah tersebut menjadi danau buatan dan kami jadikan tempat berenang.

Lelaki muda tersebut patah tulang pahanya, meringis kesakitan namun bertahan dalam penderitaan.

Bergantian kami memapahnya, dan alhamdulillah kami telah tiba di tempat aman, kecemasan sedikit mereda. Aku teringat Agus dan kakek tua itu.

Semburat senja diufuk barat telah tiba, sebuah mobil truk datang, menyisakan debu di jalan Gampong yang belum beraspal

Truk ini sudah bolak balik mengangkat mayat untuk di kumpulkan dan di identifikasi, sementara korban yang terluka di evakuasi untuk mendapat penanganan sementara di halaman mesjid Lambaro Angan.

Aku, Muli dan Weah memutuskan untuk kembali kerumah, mengecek sebentar pintu pintu rumah apakah sudah terkunci atau belum.

Dirumah, sepeda Motor supra x terkepung lumpur setinggi lutut, tidak ada barang lain yang rusak, setelah mandi dan berganti baju, kumasukkan kain sarung dan sajadah kedalam ransel.

Listrik masih padam, hp nokia 3215 belum ada sinyal sama sekali.

Bergegas kami berkumpul dan shalat magrib berjamaah di Meunasah, perjalanan selanjutnya adalah Mesjid Lambaro Angan yang hanya berjarak 1 km, jarak yang biasa kami tempuh saat bersekolah.

Aku dan keluarga besar beberapa kali pindah tempat pengungsian, mulai dari Bueng Cala, Blang Bintang kemudian ke Tungkob tempat rumah Bang Sofyan yang masih saudara dari pihak ayah, dan terakhir di Gampong Cot, Lambaro Angan.

Waktu berlalu, mayoritas kami masih disergap ketakutan akan Gempa susulan, alunan Alqur’an di tenda tenda darurat pada malam hari, dan Mesjid mesjid yang penuh sesak dengan jamaah.

Setiap harinya ada saja kami mendengar cerita heroik dari mereka yang selamat dalam pusaran air pekat, kisah kisah Mesjid mesjid yang masih berdiri utuh, dan pencarian sanak saudara yang tak kunjung di temukan.

Keluarga besar masih menyisakan pilu, Jenazah Paman Maun* belum ditemukan, beberapa tempat pemakaman massal kami sasar, namun namanya tak tercatat, raib.

Pagi pagi kami penduduk Kembali membersihkan rumah, kemudian selanjutnya tindakan berantai lain berlanjut.

Mencari sumber minyak dari tangki dan drum drum yang tersapu gelombang, kemudian beralih mencari harta karun dalam bentuk emas, uang tunai yang bertaburan, bahkan ada yg mengangkat sepeda motor untuk diperbaiki kembali.

Berbulan bulan, Rutinitas kami adalah saat pagi datang kami kembali ke Gampong, membersihkan rumah, bergotong royong, membantu relawan dalam mengumpulkan mayat dna menguburkan mereka, bergerak bersama dalam mendata korban harta dan nyawa untuk mendapat jadup dan bantuan, dan jika malam telah tiba kami kembali ke pengungsian.

Perlahan denyut kehidupan Gampong mulai kembali, Satu persatu penduduk kembali, berbulan bulan aroma lumpur masih tercium jelas, keadaan porak poranda masih terbayangkan detailnya, bahkan sampai letak posisi mayat mayat yang ditempatkan di pinggir jalan dan hanya ditutupi kain.

Tsunami Aceh adalah peringatan bagi kita semua, ratusan ribu nyawa sekali libas dengan kuasanya, bukankah selama konflik aceh, urusan nyawa manusia mudah tercabut karena fitnah ?

Tsunami Aceh adalah Musibah, bencana dan hikmah damai konflik yang berlangsung lama.

Mengembalikan kesadaran kita bahwa hakikat penciptaan adalah menyembahnya bukan menyembah KTP Merah putih, Senjata dan kekuasaan.

Cerita ini kutuliskan kembali, sebagai refleksi Tsunami 15 Tahun lalu, tanpa banyak dialog untuk menggambarkan betapa kita akan kehilangan kata kata saat berhadapan dengan kuasanya, Allahu Akbar.

 

* mayat paman Maun ditemukan utuh dibelakang mushalla desa, berdasarkan bukti KTP Merah putih yang masih tersimpan di Dompetnya, setelah lebih dari 3 Bulan Tsunami menerpa Gampong kami.

 

Lampeudaya, 26 十二月。 2019.

 

Leave a reply