Waktu Baca : 3 minutes

 

Minggu pagi, ranjangku bergetar hebat,  segera instingku menyergap sadar, gempa batinku. Secepat gerak aku memburu kehalaman, ketakutan menjalar keseluruh tubuh. Dihalaman aku sempoyongan, tak mampu berdiri.

Getaran itu begitu dahsyat, kulihat pohon asam yg tinggi besar dipojokan jalan meliuk liuk, mataku spontan menatap pijakan dan imajinasi liarku membayangkan bumi retak dan terbelah.

Aku menyesal melewatkan subuh, istigfarku makin kencang, Tuhan hadir secepat kilat saat kematian begitu dekat rasanya.

Pagi minggu itu, 26 Desember 2004. Gempa menghentak Gampongku Lampeudaya, Kecamatan Darussalam yang  berjarak sekitar 3 km dari pesisir laut. Gempa mereda, di kedai Cut Ya telah berkerumun penduduk kampung, bersarung, bertampang pucat dan risau.

Riuh rendah suara cerita spontanitas pagi yang tidak biasanya, sampai tiba tiba Bang Leman menunjuk kelangit arah laut, ada gumpalan putih berderak kencang. Seperti tersihir kami, bencana Angin puyuh prediksinya.

Tergopoh kami, dari sebelah utara kampung, raungan kereta, mobil saling pacu memasuki gampong kami, “ie laot diek, ie laot diek”,  (baca : air laut naik, air laut naik), Semua orang yang berhamburan melarikan diri meneriakkan peringatan air laut menerjang daratan.

Dimulailah adegan demi adegan menyelamatkan diri, keluarga, harta dan semua yang bisa dibawa serta.

Aku sendiri mengikuti kerumunan melarikan diri menjauh sampai ke areal persawahan, berlarian mengikuti pematang dan tetap mencari info apa yang sebenarnya terjadi dari mereka yang terus berlari menjauh. Aku bertahan di persawahan sampai suara derum mobil dan kereta dan orang orang yang berlarian mulai menghilang.

Menjelang siang, berapa anak muda yg berpapasan ku ajak kembali memantau situasi Gampong, ada Muli, Agus dan Weah (nama panggilan karena saat bermain bola dia sering menggunakan jersey Klub Ac Milan bertulis nama Weah).

Kami terdiam, ternganga,  Air laut telah mengepung hampir sepertiga Gampong kami, sampah, mayat dan semua limbah telah bertumpuk tumpuk dan menggunung dibeberapa titik.

Beberapa warga Gampong saling bantu mengangkat jenazah untuk dikumpulkan dipinggir jalan, Kemudian menolong beberapa korban yang luka parah, ada yang dipapah karena tulang lenganya dipapah, ada yang isi perutnya terurai, ada yang kepalanya berdarah terbentur, semua itu nyata didepan mata.

Semua bergerak apa yang bisa membantu, menyuguhkan air, membasuh luka phisik sampai dengan batin, menenangkan hati hati yang terlanjur remuk dan trauma. Seketika aku teringat paman yang biasa kami panggil Cut Maun yang paagi itu bertugas memetik kelapa bersama beberapa temannya tak kunjung tampak, selintingan cerita yang kudapatkan, pamanku terbawa air dan salah seorang temannya selamat bercerita, mereka sekalian di gulung ombak.

Komunikasi terputus sama sekali, Orang tua dan adik adikku berada di Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, sama sekali tidak bisa  dihubungi dan hanya memanjatkan doa semoga mereka semua dalam keadaan baik baik saja.

Aku tinggal di Gampong Lampeudaya bersama keluarga besar Ayah. Setelah memastikan tidak ada yang hilang tersapu gelombang dan hampir Mayoritas berkumpul di Mesjid Lambaro Angan, Kami berempat bersepakat melihat lebih dekat gampong tetangga (Lamseunong, bagian dari Gampong Kajhu) yang merupakan tempat berdirinya perumnas yang hampir ratusan rumah didalamnya.

 

Di atas gunungan sampah, kami senyap, tatapan nanar kami saling pandang melihat hamparan bangunan yg sudah rata, sejauh mata memandang kami hanya melihat laut, semua nya telah diterjang gelombang. Mayat mayat yang tak kami kenal, sebagian besar terlanjang, begitu jelas diantara tumpukan puing bangunan dan kayu.

Hati kami hampa, beberapa kali istigfar terucap, pijakan kami goyah, suasana begitu mencekam sampai mencekat lidah lidah kami untuk berkata kata, masing masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

Seorang laki laki tua terburu buru melewati kami, perlahan menjauh menuju reruntuhan bangunan. Setika kami terperanjat saat mendengar suara perempuan lirih meminta tolong.

Segera kami mendekat, Perempuan hamil yang bersarung dan darah tampak jelas di pahanya mengalir, kelihatan benar dia kesulitan berjalan.

Kami memapahnya menuju tempat istirahat dan menyarankan kalo bisa begerak pelan pelan menuju pusat kampong agar segera mendapat pertolongan.

Tak lama kemudian, ada Lelaki yg melambaikan tangan memanggil kami untuk merapat,   dia nampak kelelahan memanggul mayat dibahunya. Tanpa kami tanya dia berujar “ini mayat istriku, tolong bantu saya ya dek”,  suara yang berat seberat kepedihan yang menerpanya.

Tanpa menunggu lama, kami memilah papan untuk menempatkan mayat agar dapat kita tandu berempat.

Perlahan kami bergerak bersama melewati tumpukan sampah, terasa tenagaku terkuras, belum ada asupan apa apa sejak pagi.

Setelah mencapai tempat yang sedikit lapang dan dapat dijangkau oleh Mobil pengangkut jenazah, kami berempat kembali, dan mulai mencari roti dan apa yang bisa kita nikmati, lapar sudah tak tertahan.

Bersambung…

 

Tagged With:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *