Waktu Baca : 2 minutes

/
GOLONGAN putih alias golput adalah golongan yang punya hak pilih dalam memilih pemimpin namun tidak memberikan suaranya di hari pencoblosan. Golput yang kita bicarakan di sini adalah bukan salah satu golongan sebagai idenditas salah satu kandidat pilkada yang sering dikenal pasangan putih. Bukan juga golongan yang tidak memilih karena alasan pekerjaan dan terbentur aturan administrasi sebagai pemilih, namun lebih kepada pemilih yang yang tidak memilih karena alasan politis.

Golput politis ini terlahir dari analis personal yang menempatkan alasan utama bahwa tidak ada pemimpin yang layak dan pantas sebagai pemimpin dalam mengatur pemerintahan suatu daerah. Tidak terpenuhinya syarat kepemimpinan dan meragukan kualitas pemimpin menjadi sebuah wacana yang melahirkan opini yang semakin menguat dengan romantisme sepak terjang memimpin yang hanya mengakomodir pihak pihak tertentu dan tidak menyentuh golongan bawah.

Program kerja dari visi misi pemimpin hanya menjadi utopia selama masa kampanye namun berbanding terbalik selama memegang kekuasaan. Rakyat sebagai pemilih hanya menjadi korban dari janji-janji manis dari penguasa, program prioritas dan anggaran yang dikelola tidak punya dampak apapun terhadap kesejahteraan rakyat, dalam bahasa Aceh, soe mantong pemimpin nanggroe, kamoe tetap lagee sot (siapapun pemimpin daerah, kami tetap seperti biasa).

Kenyataan dan fakta inilah berlangsung terus-menerus dan akhirnya menggerus kepercayaan pemilih terhadap kemampuan seorang pemimpin dalam mengubah kondisi riil masyarakat kelas bawah. Rakyat kecil makin tersudut dengan perekonomian yang semakin sulit, semakin terpojok dengan gempuran budaya yang melupakan identitas kearifan lokal. Bahkan, semakin terperangkap dengan lingkar kemiskinan dan kesenjangan pendapatan.

Politik itu kotor sudah demikian melekat bagi pemilih. Pilkada adalah arena penuh “intrik” dan kepentingan, sehingga setiap orang yang punya reputasi bersih baik pemuka agama dan publik figur yang terlibat di dalamnya selalu dipertanyakan niatnya dan diragukan kemampuannya untuk terlepas dari namanya haus kekuasaan.

Perebutan kekuasaan dengan jalan memunculkan isu dan wacana yang menyerang kredibilitas kandidat, intimidasi dan teror dalam menggiring pemilih, serta bentuk bentuk lain yang mengangkangi demokrasi menjadi sebuah pertimbangan bahwa pilkada tidak lebih dan kurang hanya sebuah pesta demokrasi megah tanpa perlu diapresiasi berlebihan.

Terlalu banyak aktor politik hanya mementingkan perut sendiri dan kesejahteraan hanya beredar di lingkaran orang-orang yang dekat dengan penguasa, dan yang terus-menerus jadi korban adalah rakyat kelas bawah. Pertimbangan inilah melahirkan pernyataan pembenaran bahwa golput adalah sebagai upaya perlawanan rakyat.

Dari sisi demokratis, pilkada serentak pada 15 Februari 2017 yang berlangsung di 7 provinsi, 18 kota, 76 kabupaten dalam wilayah negara Indonesia diharapkan akan melahirkan pemimpin baru sebagai pilihan rakyat. Mekanisme pemilihan inilah yang menyebabkan satu suara adalah kekuatan, kantong-kantong suara digempur agar pesan politik dari kandidat tercapai, sehingga diharapkan setiap pemilih hadir di TPS dan tidak menjadi golput.

Perebutan kekuasaan dengan jalan memunculkan isu dan wacana yang menyerang kredibilitas kandidat , intimidasi dan teror dalam menggiring pemilih serta bentuk bentuk lain yang mengangkangi demokrasi menjadi sebuah pertimbangan bahwa pilkada tidak lebih dan kurang hanya sebuah pesta demokrasi megah tanpa perlu di apresiasi berlebih. Terlalu banyak aktor politik hanya mementingkan perut sendiri dan kesejahteraan hanya beredar di lingkaran orang orang yang dekat dengan penguasa, dan yang terus menerus jadi korban adalah rakyat kelas bawah. Pertimbangan inilah melahirkan pernyataan pembenaran bahwasanya menjadi golongan putih adalah sebagai upaya perlawanan rakyat.

Tulisan diatas hanya beberapa paragraf dari tulisan penuh yang dimuat di kolom opini Serambi Indonesia. 

Klik link di bawah ini,untuk membacanya tuntas.http://aceh.tribunnews.com/2017/02/16/golput-perlawanan-atau-bencana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *