Waktu Baca : 2 minutes
Nama catur di Bahasa Indonesia sendiri diambil dari kata “chaturangga” tsb dari Bahasa Sansekerta (चतुरङ्ग; caturaṅga) yang artinya “dibagi empat”, karena kolom papan terbagi atas 4 kolom.

Sejarah permainan ini bermula pada abad ke-6, di India. Dari India, catur menyebar ke Persia dan disebut sebagai shatranj di Sassanid dan menjadi aktivitas rekreasi kerajaan favorit di dunia muslim. Dari Persia, catur kemudian menyebar ke Arab. Catur selanjutnya dikenal di seluruh Spanyol dengan nama ajedrez dan sebagai xadrez di Portugal. Perlahan-lahan, caturanga menjadi zatrikion dalam bahasa Yunani, dan akhirnya menyebar di Eropa. 


Ditenggarai bahwa chaturanga juga merupakan awal mula dari permainan strategi lainnya seperti xiangqijanggi, dan shogi. Aturan pergerakan buah catur seperti sekarang ini bermula dari Spanyolsekitar akhir abad ke-15peraturan catur yang baku akhirnya distandardisasi pada abad ke-19.
Wilhelm Steinitzjuara catur dunia pertama, menyabet gelar tersebut pada tahun 1886. Sejak 1948, kejuaraan dunia diselenggarakan oleh FIDE, lembaga percaturan seluruh dunia; juara dunia saat ini adalah Magnus Carlsen asal Norwegia.
Sedikit filosofi dari buah Catur yang bersumber dari status-status Facebook saya sendiri,

#Benteng
Sepasang Benteng butuh medan tempur terbuka sehingga dia leluasa baik menyerang maupun bertahan, dan kelebihan utamanya adalah bisa melakukan rokade (roker).

#Gajah
Sepasang Gajah (bahasa Aceh: cong), adalah pasukan senyap yang punya pergerakan berbeda tapi satu tujuan melumpuhkan, dalam militer disebut dengan intelejen. Bila berkolaborasi mereka sangat kuat, kelebihannya adalah menembus titik pusat pertahanan dengan kemampuan membunuh mematikan.
#Kuda

Kemampuannya dalam memposisikan diri di semua kondisi menjadi sulit untuk ditebak langkah selanjutnya, penuh rencana tak terduga, penuh kreativitas adalah kelebihan dari sepasang kuda. Kelemahannya hanya di penjagaan pertahanan karena sering membuat blunder dan merasa jumawa.

#Pion
Yang katanya tak pernah mundur, tujuannya satu jadi seorang perwira, hasil dari sebuah perjuangan.
Mereka adalah para relawan, pegiat bidang apa saja tanpa pamrih dan mereka sudah ditempa oleh banyak hal, hidup bagi pionir bukan lagi soal rasa tapi hasil, walau terkadang hanya sebuah kepuasan bathin bagi mereka itu sudah lebih dari cukup.

Hanya saja kekurangannya, sering kali dijadikan tameng dan korban.


#perdanamentri

Perdana menteri (Meisa ; bahasa Aceh) inilah sebagai dedengkotnya perwira dalam catur, kalo orang tua bilang “uboe-ureng”, pemain sentral, menyerang dan bertahan sama kuat. Kemampuan yg mumpini disemua lini, penuh kepastian dan tegas. Berwibawa sekaligus menakutkan.
Hanya langkah kuda yang spekulatif yg tidak bisa dimainkan, karena memang “meisa” tidak berbakat intuitif, semua langkahnya penuh perencanaan dan matang.
Kelemahannya hanya jebakan maut penuh konspirasi.
#Raja
Perdana menteri, perwira dan seluruh Pion akan berkorban dan siap jadi korban demi marwah sang Raja.
Walaupun serangan dan ancaman datang silih berganti, belum lagi pihak oposisi selalu siap dengan kritikannya, menyelamatkan dan melindungi sang raja adalah harga mati.
Perencanaan tersusun sampai dengan implementasi menjadi tolak ukurnya, 
Semua resource diberdayakan dengan efektif dan efisiensi, tujuannya hanya satu, agar Raja tetap gagah berdiri.
Siapakah Raja sebenarnya. Dia adalah Rakyat.


Sumber : 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *