Waktu Baca : 2 minutes

        Ketenaran Blangpidie, Ibukota Kabupaten Aceh Barat Daya sebagai kota dagang tercatat dalam lintas Sejarah. Blangpidie telah menjadi pusat perdagangan semenjak Masa Penjajahan Belanda, ikon kota dagang ini begitu melekat sehingga meninginspirasi Syach Loetan menulis lirik Aceh Selatan yang sangat populer sampai sekarang.
        Keberadaan kota Blangpidie sebagai ikon kota dagang tidak terlepas dari letak geografisnya yang strategis di antara wilayah barat selatan dan dataran tinggi gayo dan pertumbuhan sektor pertanian dan perkebunan terutama dengan “breuh sigupai” dan kacangnya menjadikan salah satu daya tarik bagi investor.
            Saat ini, data Indikator ekonomi dari BPS Aceh barat Daya dalam kurun waktu 2010-2014, seperti pendapatan perkapita, angka kemiskinan, penggangguran, inflasi, dan lain lain,  semuanya menunjukkan besaran yang berbeda dengan realitas dilapangan, dimana banyak masyarakat dan pedagang mengeluh dengan aktivitas perekonomian. Selain itu tumbuhnya pusat pusat perdagangan baru seperti Manggeng dan Alue Bilie menjadikan Blangpidie harus berbenah diri dalam penataan ruang dan perencanaan pembangunan.
            Perencanaan Pembangunan pasar modern di Blangpidie patut diapresiasi sebagai salah satu program pembangunan ekonomi, namun tampa ditopang dengan prioritas alokasi anggaran pembangunan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat semuanya menjadi sebuah dilema. Dilema yang terjadi ketika kekuasaan sebagai inti politik memainkan peran yang tidak lagi melihat rakyat sebagai tujuan pembangunan.
            Pembangunan ekonomi versus pembangunan politik akhirnya mencapai titik kulminasi ketika APBK Aceh Barat Daya menjadi Perbub. Hal ini telah membuka mata masyarakat Abdya khususnya kota Blangpidie, betapa tidak sinerginya rencana pembangunan antara eksekutif dan legislatif. Kekuatan Politik telah menjadi begitu kuat dalam mempengaruhi perekonomian. Perebutan kekuasaan dengan 10 pasang calon bupati dan calon wakil bupati yang maju dalam pilkada 2017 menjadikan aktivitas masyarakat kota Blangpidie terlibat sangat aktif dalam berpolitik, perbedaan pendapat dan saling adu program menjadi hal yang lumrah. Media sosial telah menjadi alat kampanye tim, berbagi informasi kekuatan dukungan dan saling membenarkan kandidat pilihan telah memberi warna dalam proses pendewasaan pendidikan politik. Saling hujat di media sosial tidak terelakkan, namun berita anarkis dalam aksi sangat minim, dan ini menjadi sesuatu yang pantas di acungi jempol.
Perjalanan sejarah akan membuktikan setiap konflik akan melahirkan sebuah solusi yang lebih baik,  Kemampuan menerima perbedaan  dan pluralitas warga kota Blangpidie merupakan potensi besar dalam kemajuan bumi “Breuh Sigupai” nantinya. Namun satu yang terus menggelitik rasa penasaran penulis, masihkah kota Blangpidie menjadi kota dagang atau sudah menjadi kota politik ?. Wallahu `alam bishawab.

Tulisan ini pernah di muat di Aceh Trend
Klik link di bawah.
http://www.acehtrend.co/blangpidie-kota-politik/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *