Waktu Baca : 3 minutes

Kalimat tanya “Bahasa Aceh Jeut Droen?” (Ind : Anda Bisa Berbahasa Aceh ?) mendadak viral di media sosial akhir Januari 2021, penuturnya adalah Mawardi asal Lamkleeng, kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar.

Potongan video wawancaranya dengan reporter serambi TV, Asnawi Luwi yang viral tersebut dapat dilihat pada video berikut :


 

Mengenal Mawardi Lamkleeng Lebih Dekat

Lamkleeng (dituliskan dengan dua huruf e) adalah sebutan nama desa (Aceh : Gampong) dalam kawasan mukim Glee Yeung Kecamatan Kuta Cot Glie ( pemekaran dari kecamatan Indrapuri) Kabupaten Aceh Besar.

Kondisi geografisnya adalah kawasan persawahan dan dibatasi oleh anak sungai Krueng Aceh, dan baru baru ini terjadi fenomena tanah bergerak yang mengakibatkan 14 Kepala Keluarga (KK) mengungsi atau 71 jiwa di tenda yang sudah disiapkan BPBD dan Dinsos Aceh Besar, dan curah hujan tinggi dan luapan air sungai telah menyebabkan putusnya tali dan pergeseran jembatan gantung penghubung Lam Klieng dan Bithak. (Waspada.id, 20/1/2021).



Ada dua jalur penghubung menuju desa Lamkleng yang umumnya orang lalui, jika bepergian dari pasar Lambaro, dan menggunakan roda empat sebaiknya memilih jalur kiri dari simpang 4 Lampoh Raja dan jalur tercepat dengan roda 2 dapat memilih rute simpang 4 Tutoe ke kiri karena akan melewati jembatan gantung yag hanya bisa dilewati sepeda motor.

(saran : jika menggunakan google map, pilihlah penanda lokasi ‘Jembatan Lamkleng’  berpergian dengan sepeda motor).

Dalam satu kesempatan berbincang langsung dengan bapak Mawardi , kronologis kejadian wawancaranya itu terjadi pada saat tim Serambi TV sedang meliput kondisi tanah bergerak di desa Lamkleeng, karena kebutuhan narasumber berita, pak Mawardi yang baru saja pulang dari kebun, langsung dimintai untuk wawancara sebagai warga masyarakat, bukan atas nama perangkat gampong (pen : menjabat sebagai kepala dusun selama 3 kali pergantian keuchiek Lamkleeng).

Secara phisik, Bapak Mawardi berperawakan sedang dan berkulit gelap. Tajamnya sorot mata dan guratan wajahnya menggambarkan dirinya sebagai sosok pekerja keras dan punya kepribadian humoris.

Warga gampong Lamkleeng biasa memanggil lelaki kelahiran Lampanah, Indrapuri 52 tahun yang silam, dengan sebutan ‘komandan’ dan ternyata panggilan ini sudah melekat sejak beliau masih muda saat bekerja sebagai kernet labi labi Banda Aceh-Seulimum.

Bapak Mawardi yang tinggal dirumah sederhana bersama sang isteri ‘Juariyah” memiliki 4 anak laki laki dan 1 anak perempuan.  Alhamdulillah, rumahnya masih aman dari dampak fenomena tanah bergerak.

Dalam menopang ekonomi keluarga, beliau bekerja memelihara  3 kerbau dan 4 sapi dengan sistem bagi hasil dan juga mengelola sawah mawah.

Munculnya keresahan atas kerasnya kehidupan menjadi wajar dalam dialognya dengan penulis,  belum memiliki ternak dan lahan sawah sendiri adalah keniscayaan untuk mengungkit kesejahteraan hidup.

Mawardi Lamkleeng menjadi representatif rakyat kecil di Aceh yang tidak tersejahterakan.

Melihat Video Viral “Bahasa Aceh Jeut Droen” dari 2 Sisi 

Video Viral “bahasa Aceh Jeut Droen” yang memuat akun @kismullah_777 perlu dilihat dari 2 sisi berbeda.

Potongan wawancara Serambi TV yang terpotong hanya sampai pada frame “bahasa Aceh jeut droen ?” lalu disisip video dua anak kecil tertawa terpingkal pingkal,  pada satu sisi menuai kontroversi karena menertawakan ungkapan berbahasa Aceh di video tersebut terindikasi sebagai bentuk pelecehan nilai budaya Aceh dalam berkomunikasi, dan ini mengarah ke pelecehan Suku, Agama dan Ras.

Jika stigma ketidakmampuan berbahasa Nasional adalah sebuah kekurangan diri dan memalukan, sudah melekat  bagi mayoritas masyarakat pedesaan di Aceh, maka bangsa Aceh saat ini sudah terjangkit “inferiority complex”. Inferiority Complex adalah sebuah kondisi psikologis (tingkat alam bawah sadar), ketika suatu pihak merasa inferior/lemah/lebih rendah dibanding pihak lain, atau ketika ia merasa tidak mencukupi suatu standar dalam sebuah sistem.

Mengutip tulisan Teuku Raja D-Bentara (Intelektual Muda Aceh Besar) di Facebook (FB), ada rasa prihatin mendalam darinya terkait sikap menertawakan ucapan bahasa Aceh dari penutur asli.

Terjemahan bebas dari statusnya menyatakan Bahasa Aceh adalah penyelamat bahasa Melayu sebelum akhirnya menjadi Bahasa Indonesia, sehingga saat penggunaan bahasa Indonesia marak, hanya orang orang bermental budak yang menertawakan penggunaan bahasa Aceh.

Sejalan dengan itu, ketua Majelis Adat Aceh (MAA) kabupaten Aceh Besar, Asnawi Zainun SH dalam status FB dengan akun  ‘Mukim Siem Meudeelat’ melihat Mawardi Lamkleeng justru muncul sebagai sosok inspiratif untuk Aceh.

Sepatutnya ungkapan ” Bahasa Aceh Jeut Droen ?” menjadi pertanyaan awal dalam memulai komunikasi dengan orang orang baru, sebuah saran brilian untuk menjaga tutur bahasa Aceh tetap lestari.

Dari sisi lain,  tertawaan itu justru ditujukan untuk reporter sebagai kritik atas komunikasi pemberitaaan, agar lebih arif  melihat dan memperhatikan karakter  narasumber dan kebudayaan lokal yang melekat.

Mawardi Lamkleeng telah hadir di publik sebagai perwakilan bangsa yang bangga bertutur bahasa Aceh, moment inilah yang tidak didapatkan semua orang,  saat dihadapkan pada pilihan untuk menyampaikan gagasan dan pendapat dalam bahasa nasional, beliau justru memilih ungkapan “Bahasa Aceh Jeut Droen?”, pertanyaan ini menohok dan menggugah kita semua, ada kejujuran yang tersampaikan secara tulus.

Wassalam


Referensi :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4123949740949643&id=100000039735976

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3983748801669517&id=100001033104563

https://www.kompasiana.com/andiihsandi/552943c5f17e61b6558b456e/inferiority-complex-penyakit-akut-indonesia

https://waspada.id/aceh/tanah-bergerak-makin-meluas-banjir-dan-longsor-landa-aceh-besar/

Tagged With:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *