Badai Kekuasaan

0
38
وقت القراءة: 3 الدقائق

صورة : Garry Andrew Lotuling

 

أيها الحكماء في هذا البلد !. Ceritakan pada kami.

Kisah para pejuang bangsa yang berkorban jiwa dan raga, اذكر أيضًا السبب والنتيجة وكذلك كيفية حدوث الموكب. أخبر القصة الكاملة, مراحل تصعيد الصراع التي ولدت الحلول, pergerakan perlawanan rakyat yang melahirkan masa orde lama, orde baru dan reformasi, sehingga kami tidak buta sejarah, tidak salah membaca zaman dan mampu mengambil hikmah masa lalu.

أيها الحكماء في هذا البلد!. Kami bukanlah pakar yang punya segudang cerita yang harus diluruskan, kami hanya pendengar yang baik dan santun. Bukankah banyak mendengar dan membaca akan membawa kita pada kesimpulan yang lebih baik atas semua catatan sejarah.

Wahai orang bijak negeri ini, kepingan puzzle sejarah membingungkan, itu semua karena kami masih mengeja dan melacak kebenaran sejarah yang terlanjur di belokkan atau ditutup tutupi, kami layaknya pengelana padang pasir yang berharap menemukan oase.

Kami hanya ingin mendengar dan membaca sejarah dalam fragmen yang diteliti, dikaji tuntas, agar semua benar dan tepat dalam memposisikan diri, agar kami semua dapat menemukan makna sebenarnyamelawan lupa”.

Melawan lupa telah menjadi suatu bentuk proses dalam mengembalikan kesadaran diri pada sejarah, melihat pola yang terbentuk dari masa lalu menjadi runtutan peristiwa yang mengulang kembali dalam bentuk lebih moderat.

Kami telah sangat haus akan solusi dari semua polemik yang terjadi di negeri ini. Tiap detik kami disuguhkan kisah dari media yang kami ragukan netral, kisah saling bantah, saling klaim kebenaran bahkan penghinaan pada personal dan institusi

Menikmati panasnya suhu sosial politik indonesia dalam moment pemilihan kepala daerah serentak, menikmati perubahan kebijakan sosial politik global dan mengamati secara kontinu stimulan friksi dan pergesekan para pemangku kepentingan di negeri ini, benar benar melelahkan,

Peristiwa demi peristiwa yang semakin menciderai sistem demokrasi, saling vonis pada apa dan siapa yang paling benar, dikotomi status pribumi dan nonpribumi, penggugat dan tergugat sudah mengkristal sehingga tidak butuh lagi rekonsiliasi.

Wewenang kekuasaan yang tumpah tindih terlihat dengan jelas dalam upaya meredam segala bentuk pelanggaran hukum selalu menimbulkan polemik persepsi dan sudut pandang.

حاليا, kami melihat persatuan bangsa kita tidak lagi kokoh, perbedaan pendekatan dan solusi tidak lagi menjadi sebuah rahmat. Perbedaan tersebut di tanggapi dengan keputusan dan kebijakan yang mengekspresikan ketakutan yang berlebihan. Peristiwa demi peristiwa di negeri ini telah menciptakan badai kekuasaan.

Badai ini jauh lebih kuat intensitasnya, Gerakan aksi 112, kasus dugaan korupsi Emirsyah dan pelanggaran etik Patrialis Akbar, , kasus penyadapan SBY, aksi massa di rumah SBY, kontroversi istigasah NU-Ahok, serta penangkapan Firza Husein (news.detik.com, 7/2/207) ditambah lagi beberapa ekses kampanye pilkada di daerah menyedot perhatian publik di seluruh lapisan masyarakat di negeri ini.

Ibarat tornado, putaran badai kekuasaan telah melecut isu dan peristiwa lanjutan, sambung menyambung.Pola pola yang terlihat samar menjadi pembenaran pada tataran wacana dan aksi reaksi sehingga rakyat menjustifikasikan, ada kekuatan besar yang terstruktur dan terencana tengah bermain. Mata pusaran badai mengarah ke ibukota negara kita dengan target semuanya mengarah pilpres 2019.

Pertarungan antar elit politik, ormas dan penegak hukum, eksekutif dan legislatif semakin meruncing. Semua energi dan polarisasi kekuatan tersedot kedalamnya, pembagian kekuatan dalam penyebutan islam, nasional dan komunis menemukan kutubnya.

Berkat teknologi, rakyat seperti menemukan lagi makna demokrasi, kekuasaan tak terbatas bersuara diberbagai media informasi dan media sosial, semua seolah olah menjadi pakar. Suara suara rakyat tidak lagi tersekat namun terdengar jelas dan lantang, kebebasan berpendapat menjadi tak terbendung, walaupun terkadang tanpa berpikir panjang semua seolah olah jadi pakar.

Pseudo demokrasi menjadi badai. Rakyat yang lemah dalam proses menerima, merespon dan menghargai entitas kebangsaan, membuat pilar pilar landasan dalam berbangsa dan bernegara semakin rapuh. Dan apabila variabel kelemahan ini dibiarkan maka badai kekuasaan akan meluluh lantakkan semua kesadaran diri dalam bersikap dan berpijak.

Wahai yang masih peduli dengan negeri ini, sebelum badai kekuasaan ini benar benar merusak seluruh sendi bangsa, marilah kita semua kembali pada hakikat pembangunan yaitu pembangunan kesadaran.

Pembangunan kesadaran bahwasanya bangsa ini dibangun dari berbagai negara, ketika Indonesia satu dibangun atas keberagamaan adat istiadat, budaya bahkan agama. Bangsa ini bangsa yang besar dan sangat dibutuhkan kesadaran bertoleransi dengan Pancasila sebagai dasar bangsa dan bhinneka tunggal ika sebagai pembangunan kesadaran kita semua.

Kesadaran inilah yang akan menyerap semua badai, sehingga orang orang bijak di negeri ini akan menghabiskan energinya dalam membangun bangsa ini, untuk Indonesia emas.

 

(Tulisan ini sudah direvisi dari tulisan asli di rubrik Indonesiana )

Leave a reply