Storm van mag

0
37
Leestyd: 3 minute

Prent : Garry Andrew Lotuling

 

O wyse mense in hierdie land !. Vertel ons.

Die verhaal van die vegters van die land wat hul lewens en liggame opgeoffer het, vertel ook die oorsaak en gevolg asook hoe die optog plaasgevind het. Vertel die volledige verhaal, die stadia van konflik-eskalasie wat aanleiding gegee het tot oplossings, die beweging van die volk se verset wat gelei het tot die tyd van die ou orde, nuwe orde en hervorming, sodat ons nie blind is vir die geskiedenis nie, Moenie die tye verkeerd gelees en die wysheid van die verlede kan gebruik nie.

O wyse mense in hierdie land!. Ons is nie kundiges wat 'n magdom stories het wat reggestel moet word nie, ons is net goeie en beleefde luisteraars. As u nie baie luister en lees nie, kan ons lei tot 'n beter gevolgtrekking oor alle historiese rekords.

O wyse mense van hierdie land, verbysterende historiese legkaartstukke, dit is alles omdat ons steeds historiese waarhede spoor en opspoor wat opgedis of bedek is, ons is soos woestynreisigers wat hoop om 'n oase te vind.

Ons wil net die geskiedenis hoor en lees in die fragmente wat bestudeer is, deeglik bestudeer, sodat alles reg en reg is om jouself te posisioneer, agar kami semua dapat menemukan makna sebenarnya “veg vergeet”.

Bestry van vergeet het 'n vorm van proses geword om selfbewustheid in die geskiedenis terug te gee, sien patrone gevorm uit die verlede in 'n reeks herhalende gebeure in 'n meer gematigde vorm.

Kami telah sangat haus akan solusi dari semua polemik yang terjadi di negeri ini. Tiap detik kami disuguhkan kisah dari media yang kami ragukan netral, die verhaal van mekaar, wedersydse aansprake op waarheid en selfs beledigings teenoor persoonlike en institusionele

Geniet die hitte van die sosio-politieke temperatuur in Indonesië op die oomblik van die gelyktydige verkiesing vir plaaslike hoofde, menikmati perubahan kebijakan sosial politik global dan mengamati secara kontinu stimulan friksi dan pergesekan para pemangku kepentingan di negeri ini, benar benar melelahkan,

Peristiwa demi peristiwa yang semakin menciderai sistem demokrasi, vonnis mekaar oor wat en wie is die korrekste, digotomie van inheemse en nie-inheemse status, penggugat dan tergugat sudah mengkristal sehingga tidak butuh lagi rekonsiliasi.

Wewenang kekuasaan yang tumpah tindih terlihat dengan jelas dalam upaya meredam segala bentuk pelanggaran hukum selalu menimbulkan polemik persepsi dan sudut pandang.

tans, kami melihat persatuan bangsa kita tidak lagi kokoh, perbedaan pendekatan dan solusi tidak lagi menjadi sebuah rahmat. Perbedaan tersebut di tanggapi dengan keputusan dan kebijakan yang mengekspresikan ketakutan yang berlebihan. Peristiwa demi peristiwa di negeri ini telah menciptakan badai kekuasaan.

Badai ini jauh lebih kuat intensitasnya, Gerakan aksi 112, kasus dugaan korupsi Emirsyah dan pelanggaran etik Patrialis Akbar, , kasus penyadapan SBY, aksi massa di rumah SBY, kontroversi istigasah NU-Ahok, serta penangkapan Firza Husein (news.detik.com, 7/2/207) ditambah lagi beberapa ekses kampanye pilkada di daerah menyedot perhatian publik di seluruh lapisan masyarakat di negeri ini.

Ibarat tornado, putaran badai kekuasaan telah melecut isu dan peristiwa lanjutan, sambung menyambung.Pola pola yang terlihat samar menjadi pembenaran pada tataran wacana dan aksi reaksi sehingga rakyat menjustifikasikan, ada kekuatan besar yang terstruktur dan terencana tengah bermain. Mata pusaran badai mengarah ke ibukota negara kita dengan target semuanya mengarah pilpres 2019.

Pertarungan antar elit politik, ormas dan penegak hukum, eksekutif dan legislatif semakin meruncing. Semua energi dan polarisasi kekuatan tersedot kedalamnya, pembagian kekuatan dalam penyebutan islam, nasional dan komunis menemukan kutubnya.

Berkat teknologi, rakyat seperti menemukan lagi makna demokrasi, kekuasaan tak terbatas bersuara diberbagai media informasi dan media sosial, semua seolah olah menjadi pakar. Suara suara rakyat tidak lagi tersekat namun terdengar jelas dan lantang, kebebasan berpendapat menjadi tak terbendung, walaupun terkadang tanpa berpikir panjang semua seolah olah jadi pakar.

Pseudo demokrasi menjadi badai. Swak mense in die proses van ontvangs, reageer op en respekteer nasionale entiteite, membuat pilar pilar landasan dalam berbangsa dan bernegara semakin rapuh. Dan apabila variabel kelemahan ini dibiarkan maka badai kekuasaan akan meluluh lantakkan semua kesadaran diri dalam bersikap dan berpijak.

Wahai yang masih peduli dengan negeri ini, sebelum badai kekuasaan ini benar benar merusak seluruh sendi bangsa, marilah kita semua kembali pada hakikat pembangunan yaitu pembangunan kesadaran.

Pembangunan kesadaran bahwasanya bangsa ini dibangun dari berbagai negara, ketika Indonesia satu dibangun atas keberagamaan adat istiadat, budaya bahkan agama. Bangsa ini bangsa yang besar dan sangat dibutuhkan kesadaran bertoleransi dengan Pancasila sebagai dasar bangsa dan bhinneka tunggal ika sebagai pembangunan kesadaran kita semua.

Hierdie bewustheid sal al die storms opneem, sodat die wyse mense in hierdie land hul energie sal spandeer in die opbou van hierdie land, vir goud in Indonesië.

 

(Hierdie artikel is hersien vanaf die oorspronklike skrywe in die rubriek Indonesiese )

Leave a reply

Artikel Lainnya