Abadi dalam Puisi

0
18
Reading Time: 2 minutes

 

Bismillahirrahmanirahim.

Minggu 18 Juli 2020, Indonesia kehilangan sastrawan dan pujangga besar Sapardi Djoko Damono (SDD).

TPU Grititama Bogor menjadi tempat peristirahatan terakhir beliau setelah sempat dirawat di RS Eka Hospital BDS Tangerang karena penurunan fungsi organ.

Puisi puisinya menjadi karya abadi bagi penikmatnya. Bagaimana tidak, lirik lirik yang sederhana ternyata mampu menyampaikan kedalaman makna hidup dan romantika

Salah satu puisinya Aku Ingin, telah membumikan kalimat “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”.

SDD telah mengabadikan cinta dalam rangkaian kata magis lewat bunyi puisi.

Selami saja Hujan Bulan Juni, beragam interpretasi bisa muncul,  tanpa retorika berlebihan memberi kekuatan lariknya.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(1989)

Kumpulan puisi  “Hujan Bulan Juni” (1994) yang berisi 102 puisinya sejak tahun 1964-1994, telah dialihbahasakan ke dalam empat bahasa, yakni Inggris, Jepang, Arab, dan Mandarin, dan dijadikan film layar lebar tahun 2017.

Fenomenalnya puisi puisi romantis karyanya telah menularkan duka amat mendalam selepas kepergiannya, ucapan bela sungkawa di jagad twitter telah menjadi trending topik dan ditweet sebanyak 103 ribu kali, sampai jam 21.10 WIB saat tulisan ini diposting.

Sapardi Djoko Damono yang juga sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini telah tutup usia di umur 80 tahun (20 Maret 1940-18 Juli 2020).

Selamat jalan Eyang, dirimu abadi dalam puisi.

puisi sapardi

 

 

Leave a reply