4 Butir Rekomendasi Hasil Diskusi Publik Persada

"Sinergitas Menuju Persada Lebih Baik"
0
40
Reading Time: 6 minutes

Bicara olahraga yang paling populer, sepakbola berada di posisi teratas dan digemari hampir 4 milyar secara global menurut catatan World Atlas dalam “the most popular Sport in the World“.

Sepakbola bahkan menjadi bagian penting dalam mempromosikan potensi daerah dan mengambil peran yang krusial dalam peta politik suatu negara, Bahkan perhelatan piala dunia 2018 di Moskow, disinyalir ada upaya Rusia menjadikan  momen tersebut sebagai upaya mengurai konflik yang terjadi antara Rusia dengan beberapa negara lain khususnya Inggris terkait peracunan agen ganda dan putrinya.

Sepakbola menjelma menjadi olahraga patriotik saat nama daerah dan bangsa dipertaruhkan dalam even event resmi antar regional atau internasional.

Kompleksitas Sepakbola akan muncul dengan sendirinya karena melibatkan banyak pihak dan terbentur banyak kepentingan, Jadi Kemurnian Sepakbola di sisi Olahraga menjadi nisbi adanya.

Sepakbola melibatkan banyak orang di dalamnya, pemain, pelatih , official team, wasit, fans, donatur sampai dengan media dan publisitasnya.

Liga Profesional telah menjadikan sepakbola sebagai tempat cari makan, profesi di Sepakbola adalah mengenai kontrak dan gaji, sehingga peran sponsor dan pengelolaan Klub harus ditopang oleh para pemegang saham bonafid dalam mengelontorkan dana segar dalam membangun Klub yang berprestasi tinggi untuk meningkatkan prestise dan daya jual hak siar dan jersey, Sepakbola adalah bisnis.

Di Kasta Liga Amatir khususnya Indonesia, liga 3 masih diperbolehkan didanai  anggaran operasionalnya dari pemerintah daerah.

Keterbasan anggaran tentu saja membutuhkan banyak Pihak ketiga untuk terlibat, dimana syarat utamanya punya rasa sosial yang lebih tinggi.

Pengurus klub harus punya dedikasi tinggi, turut menyumbang tenaga dan pemikiran,  segudang problema keuangan yang pos pos pengeluarannya membutuhkan banyak perhatian, terkait uang saku pemain dan gaji pelatih,  Official tim yang harus belajar banyak dalam mengelola isu dan kritik yang terkadang tidak relevan.

Setiap kompetisi Liga 3 mulai digelar, beberapa Managemen bonden di daerah harus memutar otak untuk mensiasati pengeluaran terkait peralatan latihan, perlengkapan pemain, belum lagi biaya akomodasi, makan minum dan juga transportasi, bicara bonus pun menjadi sebuah dilema untuk mendongkrak semangat pemain dalam bermain.

Banyaknya masalah dan tantangan inilah yang inilah menyurutkan langkah banyak figur gagal membangun klub.

Hanya segelintir orang orang yang berani yang siap secara mental dan finansial  menjadi presiden klub bonden daerahnya.

Di Kabupaten Aceh Barat Daya, nama Romi Syahputra (RSP) telah memposisikan diri mengambil beban besar ini untuk berani bersikap dalam mengelola bonden Persatuan Sepakbola Aceh Barat Daya (PERSADA).

Persada menjadi bonden yang eksistensinya masih bertahan dalam kiprahnya di liga 3, walaupun hasilnya belum memuaskan di tahun 2019.

Persada menolak hasil putaran ke 2 Liga 3 yang digelar di Gayo, terkait dugaan tidak fairnya pelaksanaan regulasi Asprov PSSI.

Baca : https://aceh.tribunnews.com/2019/09/12/persada-abdya-boikot-bertanding-laga-lanjutan-liga-3-ini-penyebabnya

Persada kemudian bersiap untuk kembali mengikuti soeratin Cup, yang sampai saat ini masih belum ada jadwal pasti untuk di gelar. Proses Seleksi tim dan latihan rutin terus dilakukan.

Dalam Proses menunggu inilah, kemudian Persada mengambil inisiatif untuk mengadakan launching Skuad Tim Soeratin 2019 untuk diperkenalkan ke publik sekaligus menggelar Diskusi yang mengambil tema ” Sinergitas menuju Persada lebih baik”.

Latar belakang diskusi publik ini untuk membuka akses sebesar besarnya kepada publik pencinta Sepakbola di Bumoe Breuh Sigupai dalam memberi saran, kritik dan tanggapan dalam memajukan Persada ke depan.

Sinergitas menjadi hal yang tak bisa ditawar, hubungan langsung dengan PSSI sebagai induk olahraga sepakbola dan Sponsorship telah menghadirkan Sofyan sebagai narasumber perwakilan dari  Askab PSSI Abdya.

Sofyan mengemukan isu regulasi tarkam yang tidak mengarah ke pembinaan atlit muda dan rendahnya plot anggaran PSSI namun tetap membantu membenahi surat rekomendasi terkait pelaksaan event sepakbola tanpa memungut bayaran dan berkontribusi pada pembinaan dengan subsidi pendanaan dalam mengurus Akte Notaris buat Sekolah Sepakbola (SSB) di Abdya.

Redha Yos Paradian dengan brand logo RYSnya dan turut menjadi sponsor dalam beberapa event resmi PSSI yang diikuti Persada, hadir  memberikan materi betapa sponsorship tidak bisa dikesanpingkan dalam membangun klub yang tangguh, mengharapkan tumbuhnya semangat mencintai persada dari Pemilik Usaha di Abdya dengan berkontribusi dalam membantu perlengkapan tim dalam skala kecil ataupun besar.

Perwakilan Pemerintah Daerah, Azhar Abbas yang saat ini dipercaya sebagi Kepala Seksi Pemuda dan Olahraga di dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengedepankan Materi pembinaan atlit sepakbola pelajar baik SSB maupun event O2SN, kemudian mengokomodir anggaran untuk pembangunan atau rehabilitasi lapangan sepakbola dan siap dalam proses seleksi dan pembinan atlit untuk POPDA mendatang.

Dalam Diskusi Publik, KONI Abdya sebagai Organisasi Induk Olahraga Daerah juga turut mengambil peran dalam membuka pemahaman tentang  domain kerja  olahraga pendidikan, rekreasi dan prestasi. dengan menghadirkan Jufri, S.Ag, M.M sebagai sekjen KONI Abdya.

Kemudian diskusi yang diarahkan oleh moderator Masri Pribumi (pen;) dengan Notulen Findra R dibangun dalam konteks berbagi wawasan bagaimana mewujudkan sebuah tim menjadi lebih maju dalam pengelolaannya, terkait hal ini Akhyar Ilyas yang menjadi bagian dari management PERSIRAJA di dapuk menjadi pembicara dalam kapasitas sebagai Pelatih Profesional.

Baca juga : https://www.bola.com/indonesia/read/4119101/bungkam-sriwijaya-fc-persiraja-lolos-ke-liga-1-2020

Dalam materinya Akhar Ilyas menyampaikan bagaimana hubungan ketiga point penting dalam membangun sebuah tim itu kuat, yaitu SDM pelatih dan wasit untuk pembinaan berjenjang, kemudian dukungan sarana dan prasarana olahrag dan kompetesi yang digelar.

Mengupas lebih jelas dalam pemaparannya  mengapa Tarkam Sepakbola tidak akan menghasilkan output yang sama dengan kompetesi, dimana regulasi tidak dapat mengikat panitia pelaksana untuk menjalankan aturan batasan pemain lokal dan transfer serta batasan kelompok umur. Satu satunya jalan agar meningkatkan jam terbang pemain sebagai penopang PERSADA kedepan adalah menggulirkan kompetisinya sendiri.

Dalam contoh yang konkritnya, Kompetisi Liga di kelompok umur 19 Tahun dapat di Adopsi dari Kabupaten Aceh Jaya yang pernah menyelenggarakannya.

Romi Syahputra yang dikenal dengan sebutan RSP, yang menjabat sebagai ketua Persada dalam kesempatan terakhir lebih menyampaikan program kerja Persada tahun 2020, Dimana mengadakan Sayembara Desain Jersey Persada Kandang dan Tandang, kemudian bekerja sama dengan KONI dan PSSI dalam mengatur kembali Kepengurusan klub klub yang berada di Kabupaten Aceh Barat Daya, dan menegaskan komitmen akan menggelar Kompetisi Persada di Tahun 2020.

RSP dalam kesempatan yang sama juga menyampaikan capaian capaian Persada selama kepemimpinannya, Hasil juara 3 untuk kedua event baik liga 3 dan Soeratin di Tahun 2018, kemudian Reward untuk pemain Persada lolos tenaga Kontrak di Pemda Aceh Barat Daya dan adanya anggaran Persada untuk Pembelian Aset baik berupa Ranjang, Kasur, Kamera serta Kontribusi peningkatan kualitas SDM olahraga Sepakbola, dan sebagai catatan penting mempersilakan siapa saja yang merasa siap menjadi official tim PERSADA agar dapat mengajukan diri dengan Program Kerjanya.

Dalam Session Tanya Jawab, ada beberapa catatan menarik terkait Saran, Harapan dan Pertanyaan yang dikemukakan.

Saran untuk lebih peduli terhadap pembinaan sepakbola usia dini, kemudian harapan agar terus memotivasi para pemain muda Persada untuk mewujudkan mimpi menjadi pemain profesional dan pertanyaan penggunaan Pos anggaran Persada.

Diskusi Publik dihadiri oleh para Undangan dari pemain legenda persada, Pemain Persada yang masih aktiv, Pengurus Club Sepakbola, Orang tua/wali Tim Soeratin, Perwakilan pegiat dan pemerhati Sepakbola, Pengurus Sekolah Sepakbola di bawah FOPSSI, bahkan komunitas fans club sepakbola turut diundang.

Diskusi Publik berjalan lancar dan notulen mencatat beberapa Rekomendasi untuk Persada yaitu :

  1. Menjadikan kompetisi dalam kelompok umur 17 sampai dengan 19 tahun sebagai prioritas.
  2. Membenahi regulasi Tarkam dan Klub pesertanya.
  3. Mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam menggalakkan kompetesi kelompok umur pembinaan.
  4. Membuka peluang kepada semua Orang untuk bergabung dalam Official Persada.

Sebagai Penutup, kesempatan berbicara diberikan kepada Ketua DPRK, Bapak Nurdiato, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Jauhari S.Pd dan Dandim 0110 Abdya, Letkol CZi M. Ridha Has, ST. MT untuk menanggapi Diskusi Publik yang berjalan.

Diskusi Publik yang diselenggarakan di kediaman RSP ditutup oleh MC, Sayed Agoes Hidayat dengan membagikan souvenir berupa baju dengan hastag #kitapersada kepada seluruh Undangan dan makan bersama.

 

Blangpidie, 24 Desember 2019.

Leave a reply